PravadaNews – Menteri Luar Negeri Spanyol Jose Manuel Albares menuding Israel menerapkan pola operasi militer serupa di Lebanon selatan seperti yang terjadi di Jalur Gaza, dan menilai kondisi tersebut tidak memungkinkan hubungan normal dengan Uni Eropa tetap dipertahankan.
Albares menyebut situasi di Lebanon mencerminkan pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan hak asasi manusia.
“Ini akan sangat serius bagi stabilitas Timur Tengah dan bagi keamanan Israel sendiri,” kata Albares dikutip Selasa (21/4/2026).
Baca juga : Sanchez Desak PBB Direformasi
Albares menjelaskan bahwa operasi militer di Lebanon selatan, menurut pandangannya, telah menciptakan pola yang mencakup penghancuran infrastruktur sipil, pemindahan paksa penduduk, serta gangguan terhadap pasukan penjaga perdamaian PBB.
Albares menilai kondisi tersebut menunjukkan upaya penguasaan wilayah oleh Israel atas negara berdaulat.
“Israel sedang membawa Timur Tengah menuju perang abadi,” ujar Albares.
Berdasarkan kondisi tersebut, Albares menegaskan kembali dorongan Spanyol agar Uni Eropa menangguhkan perjanjian asosiasi dengan Israel. Alvares menyatakan akan membawa isu itu dalam pertemuan para menteri luar negeri Uni Eropa pada Selasa.
“Israel harus memahami bahwa mereka tidak dapat memiliki hubungan normal ketika hak asasi manusia dilanggar secara terang-terangan,” kata Albares.
Selain konflik di Lebanon, Albares juga menyoroti ketegangan di Selat Hormuz. Albares menegaskan Spanyol tidak akan terlibat dalam operasi militer apa pun di kawasan tersebut di tengah situasi yang masih rapuh meski terdapat gencatan senjata sementara antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
“Kami tidak akan ambil bagian dalam operasi militer apa pun di selat tersebut,” ujar Albares.
Albares juga menyerukan agar Selat Hormuz tetap menjadi jalur pelayaran yang bebas dan aman bagi semua pihak tanpa diskriminasi, sekaligus mendorong Iran melanjutkan dialog dengan AS melalui mediasi pihak ketiga guna mencegah eskalasi lebih lanjut di kawasan.















