PravadaNews – Kementerian Perindustrian Republik Indonesia menilai pergeseran preferensi konsumen ke kendaraan hemat energi menjadi pendorong utama pertumbuhan pasar kendaraan listrik atau electric vehicle di dalam negeri.
Direktur Jenderal ILMATE Kemenperin Setia Diarta mengatakan masyarakat mulai meninggalkan kendaraan konvensional dan beralih ke opsi yang lebih ramah lingkungan.
“Terjadi perubahan preferensi konsumen. Masyarakat mulai memilih kendaraan yang lebih hemat energi dan ramah lingkungan,” ujar Setia dikutip Kamis (23/4/2026).
Baca juga : Kemenperin Dorong Semen Hijau
Perubahan tersebut tercermin dari meningkatnya kapasitas produksi industri. Saat ini terdapat puluhan perusahaan yang memproduksi mobil, sepeda motor, hingga bus listrik dengan total investasi mencapai puluhan triliun rupiah.
Di sisi pasar, populasi kendaraan listrik nasional hingga Maret 2026 telah menembus ratusan ribu unit, dengan dominasi sepeda motor listrik. Pangsa pasar kendaraan listrik roda empat juga terus meningkat, mencerminkan adopsi yang semakin luas.
Kemenperin menilai momentum ini perlu diikuti dengan penguatan struktur industri dalam negeri. Pemerintah menargetkan peningkatan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) secara bertahap hingga mencapai 80 persen pada 2030.
“Kami ingin investasi kendaraan listrik tidak berhenti pada perakitan, tetapi berkembang ke baterai, komponen utama, dan rantai pasok nasional,” kata Setia.
Sementara itu, Sekretaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia Kukuh Kumara menilai industri otomotif nasional tengah mengalami perubahan struktural. Dominasi kendaraan bermesin konvensional mulai bergeser ke sistem multi-teknologi, termasuk elektrifikasi.
“Penjualan mobil bermesin konvensional terus menurun. Sebaliknya, mobil elektrifikasi meningkat,” ujar Kukuh.
Dari sisi industri, BYD Indonesia menyatakan komitmennya membangun ekosistem kendaraan listrik di Indonesia, mulai dari produk hingga infrastruktur pendukung.
Sementara itu, pelaku industri lainnya menilai kebijakan fiskal perlu disesuaikan untuk menjaga momentum pertumbuhan. Skema pajak progresif diusulkan agar kendaraan listrik dengan harga terjangkau tetap kompetitif, sekaligus mendorong adopsi lebih luas.
Di tengah transisi ini, kendaraan hibrida plug-in juga dinilai dapat menjadi jembatan sebelum adopsi penuh kendaraan listrik, terutama untuk kebutuhan mobilitas jarak jauh.















