PravadaNews – Tebu, singkong hingga jagung bakal dimanfaatkan oleh pemerintah untuk pemerintah mengurangi ketergantungan terhadap impor bensin. Pasalnya, ketiga komoditas tersebut dinilai dapat diolah menjadi etanol yang nantinya digunakan dalam pengembangan E50.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia menjelaskan, etanol akan menjadi bahan utama yang dibutuhkan untuk meningkatkan campuran bahan bakar hingga mencapai E50.
“E50 ini kan bahan bakunya adalah etanol. Etanol itu bahan bakunya dari tebu, singkong, jagung, yang di-processing kemudian bisa menghasilkan etanol,” ujar Bahlil di Jakarta, dikutip Selasa (22/9/2026).
Menurut Bahlil, cara tersebut menjadi salah satu alternatif yang tengah dipertimbangkan pemerintah, tepatnya usai penerapan campuran bahan bakar nabati pada solar melalui program biodiesel.
Jika E50 bisa diterapkan, maka nantinya Indonesia tidak lagi bergantung terhadap impor bensin dalam bentuk produk jadi.
Namun, penerapan campuran etanol akan dilakukan secara bertahap. Kementerian ESDM saat ini masih menyusun roadmap dengan rencana awal penerapan E10 pada 2027 dan meningkat menjadi E20 pada 2028.
“Tetapi kita harus menyesuaikan dengan industri kita. Kita tidak mau menerapkan E10, E20, atau E50, tapi etanolnya diimpor dari luar, sama saja bohong. Jadi kita pengin untuk memanfaatkan produksi kita dalam negeri,” ucap Bahlil.
Sementara itu, Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman mengatakan, butuh sekitar 1 hingga 2 juta hektare lahan untuk mengembangkan tebu, singkong, dan jagung sebagai bahan baku etanol.
Dari kebutuhan tersebut, sekitar 1 juta hektare diprioritaskan untuk pengembangan tebu.
Dalam prosesnya, pemerintah akan melibatkan sejumlah kementerian dan lembaga dalam menyiapkan lahan hingga menjalankan program tersebut.
“Tetapi yang paling penting adalah tebu. Kita butuh 1 juta hektare. Tadi sudah dihadiri oleh Pak Dirjen dari Kehutanan Planologi, kemudian Deputi dari BUMN, kita akan bergerak bersama,” kata Amran di Jakarta, Senin (21/9/2026).
Amran memastikan pengembangan lahan tidak akan langsung dilakukan dengan membuka kawasan hutan. Pemerintah akan terlebih dahulu memanfaatkan lahan yang tersedia untuk agroforestri dan tanaman pangan, termasuk menyeleksi sekitar 1,3 juta hektare lahan yang telah dilepaskan untuk melihat kesesuaiannya bagi tanaman tebu.
“Paling terakhir baru pelepasan hutan. Itu paling terakhir. Pokoknya kita jaga lingkungan, tetapi kita juga menjadi swasembada energi atau berdaulat energi,” ucap Amran.















