Stok beras premium di ritel modern langka, hanya tersedia beras medium. (Dok. PravadaNews)

Beranda / Ekonomi / Ternyata Ini Penyebab Beras Premiun Hilang dari Ritel Modern

Ternyata Ini Penyebab Beras Premiun Hilang dari Ritel Modern

PravadaNews — Pengamat pangan dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Khudori mengungkap alasan beras premium semakin sulit ditemukan di jaringan ritel modern. Kondisi tersebut dinilai berkaitan dengan tingginya harga gabah yang membuat produsen kesulitan menjual beras sesuai harga eceran tertinggi (HET).

Khudori mengatakan persoalan beras premium di ritel modern telah berlangsung selama beberapa bulan terakhir. Situasi tersebut terjadi di tengah harga gabah di tingkat petani yang di sejumlah daerah telah menembus lebih dari Rp8.000 per kilogram.

Menurut Khudori, harga gabah merupakan salah satu komponen utama dalam biaya produksi beras. Ketika harga bahan baku meningkat, biaya yang harus ditanggung penggilingan dan produsen beras ikut terdorong naik.

Di sisi lain, produsen beras menghadapi batasan harga jual melalui ketentuan HET. Kondisi ini membuat pelaku usaha berada dalam posisi sulit karena biaya produksi dapat lebih tinggi dibandingkan harga jual yang diperbolehkan.

“Penggilingan dan produsen beras dihadapkan pada pilihan dilematis: menjual di atas HET harus berurusan dengan Satgas Pangan POLRI, menjual sesuai HET harus siap-siap nombok dan berdarah-darah,” tulis Khudori dalam analisisnya.

Khudori menilai persoalan tersebut menjelaskan mengapa sejumlah produsen mulai mengurangi produksi beras premium. Bahkan, terdapat penggilingan atau produsen yang memilih menghentikan produksi beras premium karena mengalami kerugian.

Khudori mencontohkan salah satu produsen beras di Medan, Sumatera Utara, yang tetap memproduksi beras medium dan premium, tetapi mulai mengembangkan beras fortifikasi. Produksi beras fortifikasi disebut mencapai sekitar 20% dari total produksi perusahaan tersebut.

Langkah tersebut dilakukan karena beras fortifikasi masuk dalam kategori beras khusus. Menurut Khudori, produk tersebut tidak menghadapi pengaturan HET seperti beras medium dan premium sehingga memberikan ruang margin bagi produsen.

Namun, tidak semua penggilingan dan produsen beras dapat melakukan peralihan produksi. Pengembangan beras fortifikasi membutuhkan tambahan modal dan memiliki risiko karena merupakan produk yang berbeda dari beras premium yang selama ini diproduksi.

“Semula, beras fortifikasi diintroduksi sebagai bagian solusi aneka masalah gizi: tengkes, gizi kurang, dan kekurangan zat gizi mikro,” ujar Khudori. 

Badan Pangan Nasional (Bapanas) sebelumnya telah menjelaskan penyebab terbatasnya stok beras premium di sejumlah ritel modern. Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas Hermawan memastikan kondisi tersebut bukan akibat krisis pasokan beras.

Menurut Hermawan, salah satu faktor yang memengaruhi stok di ritel modern adalah penghentian produksi dan penarikan beras fortifikasi yang bermasalah dalam label dan mutu. Produk tersebut sebelumnya dipasarkan oleh sejumlah produsen melalui ritel modern.

“Terkait terbatasnya stok di ritel modern, itu adalah sebagai efek mungkin yang produsen-produsen yang kemarin menyalurkan beras fortifikasi ke ritel modern, itu kan tidak boleh lagi memproduksi beras fortifikasi dikarenakan banyak yang bermasalah,” ujar Hermawan dalam keterangan tertulis, Rabu (30/9/2026).

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *