Gedung Danantara Indonesia. (Foto. Dok Danantara)

Beranda / Ekonomi / Tony Blair dan Danantara Bangun Kolaborasi Hadapi Transformasi Global

Tony Blair dan Danantara Bangun Kolaborasi Hadapi Transformasi Global

PravadaNews – Percepatan transformasi dapat meningkatkan daya tarik investasi Indonesia yang didorong melalui adaptasi pengalaman serta praktik internasional yang diperkuat Danantara lewat kolaborasi bersama Tony Blair Institute for Global Change (TBI).

Kepala Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN) sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria menjelaskan kolaborasi dengan mitra global menjadi bagian dari upaya mempercepat transformasi BUMN.

“Kita ingin transformasi BUMN berjalan lebih cepat. Karena itu, penting buat kita membuka ruang kolaborasi dengan mitra global seperti Tony Blair Institute,” kata Dony.

Lebih lanjut, Dony menyampaikan pengalaman dan praktik internasional dapat menjadi referensi dalam memperkuat pengelolaan BUMN. Kerja sama tersebut diarahkan untuk mendukung peningkatan daya saing perusahaan negara dalam menghadapi persaingan global.

Adapun Dony menambahkan Danantara terus memperkuat hubungan dengan berbagai mitra strategis internasional untuk mendukung agenda pembangunan nasional.

“Banyak pengalaman dan praktik yang bisa kita adaptasi supaya hasilnya lebih optimal dan benar-benar memberi nilai tambah buat Indonesia,” ujar Dony.

Sementara itu, Ekonom sekaligus Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira menyoroti faktor kebijakan dalam melihat respons investor terhadap Indonesia. Menurut Bhima, investor turut mempertimbangkan kepastian arah kebijakan sebelum menentukan keputusan investasi.

Selanjutnya, Bhima menjelaskan Indonesia masih memiliki daya tarik investasi melalui pasar domestik dan potensi ekonominya. Namun, perubahan kebijakan yang sulit diprediksi dapat memengaruhi perhitungan risiko pelaku pasar.

“Indonesia selalu menarik untuk diceritakan. Orangnya banyak, belanja mulu, kelas menengahnya besar, menurun tapi tetap besar, tetapi yang tidak saya suka adalah kebijakan yang tidak bisa ditakar,” kata Bhima, dikutip Rabu (8/7/2026).

Di sisi lain, Bhima menyinggung penerbitan Danantara Bond yang sebelumnya ditawarkan secara global sebelum Merah Putih Bond. Instrumen tersebut menjadi salah satu hal yang diperhatikan dalam melihat respons investor terhadap perkembangan Danantara di pasar internasional.

Lebih lanjut, Bhima menyebut Danantara Bond telah ditawarkan kepada investor global dengan pembeli terbesar yang menurutnya bukan berasal dari kawasan Asia.

“Saya mendapat informasi Danantara Bond, global bond sebelum Merah Putih Bond, itu ditawarkan secara global. Pembelinya justru bukan dari Asia yang paling banyak, jadi tetangga yang paling dekat dengan Indonesia distrust dengan Danantara, itu sudah menjadi sinyal,” kata Bhima.

Seperti diketahui, kolaborasi membahas sejumlah agenda kerja sama internasional dengan ketertarikan dunia global dengan transformasi Indonesia yang sedang berjalan. Hal tersebut mencakup penguatan tata kelola, pengembangan kawasan ekonomi, hilirisasi industri, pembangunan infrastruktur, transformasi digital, hingga peningkatan kapasitas kelembagaan.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *