PravadaNews – Wakil Ketua Komisi II DPR RI Aria Bima menegaskan, pembangunan proyek strategis nasional seperti Waduk Jlantah di Karanganyar dapat menjadi solusi jangka panjang untuk mengantisipasi ancaman penyusutan lahan sawah yang terus terjadi di berbagai daerah.
Menurut Aria, keberadaan waduk tersebut tidak hanya berfungsi sebagai sumber cadangan air, tetapi juga memiliki dampak besar terhadap penguatan ketahanan pangan nasional apabila didukung pembangunan jaringan irigasi primer dan tersier yang memadai.
Aria Bima menyebut, dengan optimalisasi sistem pengairan yang terintegrasi, kawasan di sekitar Waduk Jlantah berpotensi membuka hingga 1.500 hektare sawah baru yang mampu meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus menjaga keberlanjutan sektor pangan di wilayah tersebut.
“Jika dukungan Pemerintah Pusat mengalir lewat tambahan anggaran infrastruktur lahan primer dan tersier di Waduk Jlantah, target minimal 87 persen LP2B akan sangat mudah tercapai,” jelas Aria dikutip dari dpr.go.id, Sabtu (23/5/2026).
Menurut Aria Bima, potensi pengembangan lahan pertanian di Karanganyar dinilai sangat besar apabila proyek Waduk Jlantah dan jaringan irigasinya dapat berjalan optimal.
Aria Bima menyebutkan, daerah tersebut tidak hanya mampu menutup kekurangan lahan sawah sekitar 500 hektare atau setara 3,5 persen, tetapi juga berpeluang mencatat surplus lahan pertanian hingga mencapai 1.000 hektare.
Kondisi itu dinilai dapat memperkuat kapasitas produksi pangan sekaligus menjaga keberlanjutan sektor pertanian di wilayah Karanganyar.
“Karanganyar bahkan tidak hanya menutupi kekurangan yang sekitar 500 hektare (3,5 persen) itu, tapi justru akan mengalami surplus lahan pertanian hingga 1.000 hektare,” jelas Aria Bima.
Menurut politisi Fraksi PDI-Perjuangan itu, sisa surplus lahan 1.000 hektare hasil cetak sawah baru itu nantinya dapat dikonversi secara legal untuk kebutuhan pengembangan daerah lainnya.
Hal ini mencakup pembangunan sektor pariwisata hingga infrastruktur komersial yang dapat menarik investasi dan mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD), terlebih di tengah tren penurunan dana transfer dari pemerintah pusat ke daerah saat ini.
Meski mendukung investasi daerah, Aria Bima memberikan peringatan keras agar pembangunan ekonomi tidak mengorbankan dan menyedot seluruh lahan pangan produktif yang ada.
Ketersediaan pangan rakyat secara mandiri merupakan benteng pertahanan paling mendasar bagi kedaulatan sebuah negara dalam menghadapi situasi global.
“Dunia ini boleh horek (heboh), dunia ini boleh goncang bahkan perang, tapi kalau soal ketersediaan pangan kita itu tercukupi, itu menjadi fondasi pertahanan utama kita, yaitu ketersediaan pangan rakyat. Oleh karena itu, sinergi program pusat dan daerah harus terus kita jaga. Program Lahan Sawah Dilindungi (LSD) dan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) wajib terwujud sebagai agenda strategis nasional kita,” pungkasnya
Sebelumnya, Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo meninjau optimalisasi pemanfaatan Bendungan Jlantah di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah itu.
Peninjauan ini dilakukan untuk memastikan bendungan yang telah selesai dibangun pada periode 2019-2024 dapat dimanfaatkan optimal, khususnya melalui penguatan jaringan irigasi guna meningkatkan produktivitas pertanian.
Dody menegaskan, fungsi utama Bendungan Jlantah adalah mendukung irigasi pertanian dan peningkatan produktivitas sawah.
“Fungsi utama bendungan ini adalah irigasi. Dengan optimalisasi jaringan irigasi kewenangan pusat dan penambahan jaringan baru, kita bisa meningkatkan produktivitas pertanian secara signifikan. Bahkan pada area tertentu, peningkatan produktivitas bisa mencapai hingga 100 persen,” kata Dody.
Bendungan Jlantah memiliki kapasitas tampung sebesar 11,82 juta m³ dengan luas genangan 54,77 hektare. Potensi suplai air irigasi mencapai 1.494 hektare, terdiri atas 806 hektare daerah irigasi yang telah fungsional dan 688 hektare irigasi potensial yang masih dapat dikembangkan.
Untuk mengoptimalkan potensi tersebut, Kementerian PU akan membangun saluran primer sepanjang 6,69 km dan saluran sekunder sepanjang 34,34 km secara bertahap melalui skema multi-years.
“Kita kejar penambahan luas layanan sawah hingga sekitar 1.500 hektare. Jaringan baru akan dibangun agar potensi air dari bendungan benar-benar dimanfaatkan maksimal untuk sawah-sawah di sekitar kawasan ini,” ujar Dody.















