Ilustrasi PLTS. (Foto: Dok. PravadaNews)

Beranda / Nasional / RI Bangun PLTS Jumbo 100 GW

RI Bangun PLTS Jumbo 100 GW

PravadaNews – Presiden Prabowo Subianto menegaskan Indonesia tengah mempercepat transisi energi nasional dengan membangun pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt (GW). Langkah tersebut disebut menjadi bagian dari upaya besar mendorong energi bersih di kawasan ASEAN.

Pernyataan itu disampaikan Prabowo saat menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Khusus BIMP-EAGA di Cebu, Filipina, Kamis waktu setempat. Dalam forum tersebut, Prabowo juga menantang negara-negara ASEAN untuk tidak sekadar membahas potensi energi terbarukan, tetapi mulai bergerak dengan langkah konkret.

“Transisi energi kita sedang melaju dengan kecepatan penuh. Kita tengah membangun (pembangkit listrik) tenaga surya 100 GW,” ujar Prabowo, dikutip Sabtu (9/5/2026).

Baca Juga: HET Mau Dinaikan Minyakita Malah Langka

Menurut Prabowo, kawasan ASEAN memiliki sumber daya energi baru terbarukan yang sangat besar, mulai dari tenaga air, energi surya, energi angin, hingga potensi lahan subur yang belum dimanfaatkan secara optimal.

Prabowo menyoroti sejumlah proyek strategis seperti pengembangan tenaga air di Kalimantan, perluasan proyek energi surya di Palawan, hingga pemanfaatan energi angin di wilayah pesisir sebagai fondasi membangun ketahanan energi kawasan.

“Pertanyaannya adalah apakah kita siap untuk bertindak berdasarkan potensi tersebut. Bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan subregional kita, tetapi juga untuk berkontribusi pada transisi energi ASEAN,” kata Prabowo.

Sementara itu, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan forum BIMP-EAGA juga mengesahkan dokumen BIMP-EAGA Vision (BEV) 2035 yang menjadi arah kerja sama ekonomi dan pembangunan berkelanjutan kawasan Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Filipina.

Dalam implementasinya, empat negara anggota membentuk sejumlah klaster pembangunan, termasuk Power and Energy Infrastructure Cluster (PEIC) yang fokus pada pengembangan sektor energi dan infrastruktur ketenagalistrikan. Indonesia memimpin klaster tersebut untuk periode 2022-2025 sebelum dilanjutkan Malaysia pada 2026-2029.

“Hasil dari klaster ini meliputi proyek interkoneksi jaringan listrik, proyek energi terbarukan, elektrifikasi pedesaan, dan program efisiensi energi serta konservasi energi. Program ini akan memperkuat kolaborasi subregional, sehingga masyarakat di daerah remote area mampu mengakses energi dengan harga yang terjangkau untuk kesejahteraan yang lebih baik,” ujar Bahlil.

Bahlil menambahkan pemerintah juga mulai memperluas pemanfaatan energi baru terbarukan melalui pengembangan hidrogen, nuklir, dan ammonia. Selain itu, elektrifikasi kendaraan listrik dan penggunaan kompor induksi terus didorong untuk menekan konsumsi energi fosil nasional.

“Kita juga sedang mendorong pemanfaatan tenaga surya untuk menjadi PLTS 100 GW untuk mengurangi pemakaian fosil. Tentu ini memerlukan kolaborasi dari banyak pihak untuk menyelesaikan tugas tersebut,” pungkas Bahlil.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *