PravadaNews – Pangan bukan sekadar kebutuhan dasar manusia, melainkan penentu utama keberlangsungan hidup sebuah bangsa.
Ketika ketersediaan pangan terganggu, maka stabilitas sosial, ekonomi, bahkan keamanan negara ikut berada dalam ancaman serius.
Karena itu, persoalan pangan selalu menjadi isu strategis yang menyangkut hidup dan mati rakyat suatu negara.
Di tengah ancaman krisis global, perubahan iklim, konflik geopolitik, hingga lonjakan harga bahan pokok dunia, ketahanan pangan kini menjadi perhatian utama banyak negara, termasuk Indonesia.
Pemerintah pun terus didorong memperkuat produksi dalam negeri, menjaga distribusi pangan tetap stabil, serta memastikan masyarakat dapat mengakses kebutuhan pokok dengan harga terjangkau demi menghindari ancaman krisis yang bisa berdampak luas terhadap kehidupan rakyat.
“Selalu saya katakan, pangan adalah masalah hidup dan mati suatu bangsa. Saya tidak memandang pangan sebagai sekadar komoditas. Pangan adalah masalah hidup suatu bangsa,” tegas Presiden dikutip Minggu (17/5/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Presiden menyoroti keberhasilan Indonesia dalam mewujudkan swasembada pangan di tengah berbagai tantangan global.
Menurut Presiden, pencapaian tersebut merupakan hasil kerja keras pemerintah bersama para petani serta seluruh pihak yang terlibat dalam sektor pangan nasional.
“Saya beri tugas ke Menteri Pertanian dan semua timnya. Saya minta swasembada dalam 4 tahun. Mereka bisa hasilkan dalam 1 tahun. Saya terima kasih,” ujarnya.
Presiden menyampaikan, sebagai kepala negara, dirinya memandang ketahanan pangan sebagai tanggung jawab langsung yang tidak dapat ditawar. Menurutnya, pemenuhan kebutuhan pangan bagi ratusan juta rakyat Indonesia merupakan amanah besar yang menentukan masa depan bangsa.
“Saya yang bertanggung jawab kalau bangsa ini lapar. Saya yang bertanggung jawab,” tegasnya.
Lebih lanjut, Presiden menjelaskan bahwa pandangannya mengenai pentingnya pangan juga dipengaruhi pengalaman selama menjalani karier militer. Sebagai mantan komandan pasukan, Presiden memahami bahwa kekuatan suatu negara tidak hanya ditentukan oleh persenjataan, tetapi juga oleh ketersediaan pangan.
“Sebelum kita berangkat operasi, kita cek berapa beras yang kita punya. Kalau pasukan tidak ada beras, kalau pasukan tidak makan, tidak bisa perang,” ucap Presiden.
Presiden menegaskan pangan tidak dapat dipandang semata berdasarkan pertimbangan efisiensi ekonomi atau harga yang lebih murah melalui impor. Menurut Presiden, yang terpenting adalah memastikan ketersediaan pangan nasional tetap terjaga dalam situasi apa pun, terutama di tengah ketidakpastian global.
Presiden juga menyampaikan keberhasilan Indonesia menjaga ketahanan pangan kini mulai mendapat perhatian dari negara lain. Di tengah dinamika global dan pembatasan ekspor pangan di sejumlah negara, Indonesia justru menjadi salah satu negara yang diminta untuk memasok kebutuhan pangan.
“Sekarang banyak negara minta beli beras dari kita. Minta beli beras dari kita,” ungkap Presiden.
Namun demikian, Presiden menegaskan, kepentingan rakyat Indonesia dan kesejahteraan petani nasional tetap menjadi prioritas utama pemerintah. Presiden meminta agar setiap kebijakan tetap menjaga keseimbangan antara solidaritas internasional dan perlindungan terhadap kepentingan dalam negeri.
“Jangan nyetop, tapi jangan jual terlalu murah. Ingat, krisis bisa lama ini. Yang utama kita amankan rakyat kita dulu,” tegas Presiden.
Presiden menilai, keberhasilan menjaga ketahanan pangan sekaligus menjadi bukti Indonesia memiliki kemampuan besar untuk berdiri di atas kekuatannya sendiri. Oleh karena itu, Presiden mengajak seluruh elemen bangsa untuk meninggalkan rasa rendah diri dan membangun kepercayaan terhadap kemampuan nasional.
“Kita juga harus berani untuk mengiklankan diri kita sendiri. Bukan mengiklankan kebohongan tapi kebenaran,” tutup Presiden.















