Ilustrasi Stok Beras. (Foto: Dok. PravadaNews)

Beranda / Ekonomi / BPS: Produksi Beras Susut 16 Persen

BPS: Produksi Beras Susut 16 Persen

PravadaNews – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kinerja sektor perberasan nasional pada April 2026 mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Penurunan terjadi pada luas panen, produksi padi, hingga produksi beras untuk konsumsi penduduk.

Kondisi ini menunjukkan tantangan yang masih dihadapi sektor pertanian dalam menjaga ketersediaan pangan nasional di tengah dinamika cuaca dan produksi di berbagai daerah.

Berdasarkan data BPS, luas panen padi pada April 2026 tercatat sebesar 1,40 juta hektare. Angka tersebut mengalami penurunan sebesar 0,26 juta hektare atau 15,47 persen dibandingkan April 2025 yang mencapai 1,65 juta hektare. Berkurangnya luas panen turut berdampak pada penurunan produksi padi nasional.

Baca juga: Harga Beras Premium Melonjak

Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS, Pudji Ismartini mengatakan, produksi padi dalam bentuk Gabah Kering Panen (GKP) pada April 2026 mencapai 9,13 juta ton. Jumlah tersebut turun 1,76 juta ton atau 16,15 persen dibandingkan produksi pada April 2025 yang sebesar 10,88 juta ton GKP.

Penurunan produksi juga terjadi pada Gabah Kering Giling (GKG). Menurut Pudji, produksi padi dalam bentuk GKG pada April 2026 tercatat sebanyak 7,63 juta ton. Angka ini lebih rendah 1,46 juta ton atau 16,03 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 9,09 juta ton.

“Produksi padi dalam bentuk Gabah Kering Giling (GKG) pada April 2026 sebanyak 7,63 juta ton GKG, mengalami penurunan sebanyak 1,46 juta ton GKG atau 16,03 persen dibandingkan produksi padi GKG di April 2025 yang sebanyak 9,09 juta ton GKG,” ujar Pudji dalam rilis BPS, Selasa (2/6/2026).

Sejalan dengan penurunan produksi gabah, produksi beras untuk konsumsi pangan penduduk juga mengalami kontraksi cukup dalam. BPS mencatat produksi beras pada April 2026 mencapai 4,40 juta ton, turun 0,84 juta ton atau 16 persen dibandingkan April 2025 yang sebesar 5,23 juta ton.

Penurunan produksi beras ini menjadi perhatian mengingat beras merupakan komoditas pangan strategis yang menjadi sumber pangan utama masyarakat Indonesia. Berkurangnya produksi dapat memengaruhi ketersediaan pasokan di pasar apabila tidak diimbangi dengan stok cadangan yang memadai maupun peningkatan produksi pada periode berikutnya.

Meski demikian, BPS memperkirakan aktivitas panen masih akan berlangsung pada beberapa bulan mendatang. Potensi luas panen padi selama periode Mei hingga Juli 2026 diperkirakan mencapai 2,69 juta hektare. Namun, angka tersebut masih lebih rendah sekitar 0,02 juta hektare dibandingkan luas panen pada periode yang sama tahun 2025.

Proyeksi tersebut menunjukkan meskipun panen masih berlanjut, pemulihan produksi padi nasional belum sepenuhnya terjadi. Pemerintah dan para pemangku kepentingan di sektor pertanian diharapkan terus memperkuat berbagai upaya untuk menjaga produktivitas lahan, meningkatkan efisiensi budidaya, serta mengantisipasi berbagai faktor yang dapat memengaruhi hasil panen, termasuk perubahan iklim dan kondisi cuaca ekstrem.

Meski begitu, Harga beras kualitas medium pada periode terkini tercatat tidak mengalami kenaikan dan masih bertahan pada level yang sama dibandingkan periode sebelumnya. Stabilitas harga ini menunjukkan pasokan beras medium di pasar relatif terjaga di tengah dinamika harga sejumlah komoditas pangan lainnya.

Berdasarkan data yang tersedia dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional yang dikelola oleh Bank Indonesia pada Selasa (2/6/2026), pukul 15:23, harga Beras Kualitas Medium I tercatat tetap sebesar Rp16.150 per kilogram (Kg). Sementara itu, harga Beras Kualitas Medium II juga tidak mengalami perubahan dan bertahan di level Rp16.000 per Kg.

Kondisi tersebut berbeda dengan beberapa kategori beras lainnya yang masih mencatatkan kenaikan harga di sejumlah tingkatan perdagangan. Meski demikian, harga beras medium yang stabil diharapkan dapat membantu menjaga daya beli masyarakat, mengingat jenis beras ini menjadi salah satu pilihan utama bagi sebagian besar rumah tangga di Indonesia.

Meski saat ini harga beras medium relatif stabil, pemerintah dan pemangku kepentingan terkait tetap perlu mewaspadai berbagai faktor yang berpotensi memengaruhi harga di masa mendatang, seperti kondisi cuaca, produksi dalam negeri, serta perkembangan pasokan dan permintaan di pasar. Dengan demikian, stabilitas harga beras dapat terus terjaga dan tidak membebani masyarakat sebagai konsumen utama.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *