PravadaNews – Badan Pusat Statistik (BPS), mencatat ekspor RI pada bulan April 2026 naik sebesar 21,98% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya atau setara dengan US$25,3 miliar.
Dengan catatan tersebut membuat neraca perdagangan secara kumulatif periode Januari hingga April 2026 sebesar US$5,64 miliar, atau berturut-turut selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS, Pudji Ismartini, mengatakan surplus tersebut masih didorong oleh kinerja positif perdagangan komoditas nonmigas yang terus berlanjut, sementara perdagangan migas masih mengalami defisit.
“Surplus sepanjang periode Januari-April 2026 ditopang oleh surplus komoditas nonmigas US$14,16 miliar, sementara komoditas migas masih mengalami defisit US$8,52 miliar,” ujar Pudji dalam konferensi pers, di Jakarta, Selasa (2/6/2026).
Baca juga: Perkembangan Ekspor dan Impor Indonesia Januari 2026
Pudji melanjutkan bahwa nilai ekspor kumulatif periode Januari-April 2026 mencapai US$92,15 miliar atau naik 5,48 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan ini utamanya didorong oleh sektor industri pengolahan dengan pertumbuhan nilai ekspor 9,78 persen menjadi US$75,57 miliar.
Pudji mengatakan, tiga negara pasar utama ekspor nonmigas Indonesia, yaitu Tiongkok, Amerika Serikat, dan India. Kontribusi ketiga negara ini mencapai 44,52 persen dari total ekspor nonmigas Indonesia pada Januari-April 2026.
Tiongkok masih menjadi pasar ekspor utama dengan nilai mencapai US$22,76 miliar (25,93 persen), diikuti oleh Amerika Serikat US$10,17 miliar (11,59 persen), dan India US$6,14 miliar (7,00 persen).
Ekspor nonmigas ke Tiongkok pada periode Januari-April 2026 didominasi oleh komoditas besi dan baja, nikel dan barang daripadanya, serta bahan bakar mineral. Sementara itu, ekspor ke Amerika Serikat didominasi oleh mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya, alas kaki, serta pakaian dan aksesorinya (rajutan).
Selanjutnya, nilai impor Indonesia secara kumulatif hingga April 2026 sebesar US$86,51 miliar, atau naik 13,40 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya. Penyumbang utama masih berasal dari sektor nonmigas, dengan nilai impor US$73,58 miliar, naik 12,70 persen. Sementara itu, impor migas tercatat US$12,93 miliar atau naik 17,58 persen.
Dari sisi penggunaan, terjadi peningkatan impor periode Januari-April 2026 baik pada barang modal, bahan baku/penolong, maupun barang konsumsi. Nilai impor bahan baku/penolong masih mendominasi dengan nilai mencapai US$61,82 miliar atau naik 11,67 persen. Sedangkan, nilai impor barang modal mencapai US$17,11 miliar atau naik 19,02 persen. Adapun impor barang konsumsi tercatat US$7,58 miliar, atau tumbuh 15,68 persen.
Sepanjang periode Januari-April 2026, Tiongkok menjadi negara utama asal impor nonmigas Indonesia dengan nilai US$30,79 miliar (41,84 persen), diikuti Jepang dengan nilai US$4,15 miliar (5,64 persen), dan Australia US$4,15 miliar (5,64 persen). Kontribusi ketiga negara tersebut mencapai 53,12 persen, atau lebih dari separuh total impor nonmigas Indonesia.
Selanjutnya, surplus perdagangan nonmigas pada Januari-April 2026 sebagian besar masih ditopang oleh lima komoditas utama, yaitu lemak dan minyak hewan/nabati (US$11,71 miliar), bahan bakar mineral (US$8,34 miliar), besi dan baja (US$5,71 miliar), nikel dan barang daripadanya (US$4,26 miliar), serta alas kaki (US$2,14 miliar). (Jati)















