PravadaNews – Kabupaten Nias Utara, Provinsi Sumatera Utara, masih berstatus sebagai daerah tertinggal dengan sejumlah indikator pembangunan yang menunjukkan tantangan cukup besar, khususnya pada sektor kesehatan, akses air bersih, dan pemanfaatan teknologi digital.
Meski demikian, beberapa indikator pendidikan dan infrastruktur dasar menunjukkan perkembangan yang relatif positif.
Berdasarkan data terbaru dari Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) Republik Indonesia, dikutip Senin (8/6/2026), angka partisipasi pendidikan tingkat SMP di Nias Utara mencapai 96,34 persen, sementara partisipasi SMA berada di angka 79,11 persen.
Ketersediaan fasilitas pendidikan dasar juga tergolong cukup baik dengan 88,5 persen desa memiliki sekolah dasar (SD). Namun, hanya 48,67 persen desa yang memiliki sekolah menengah pertama (SMP), sehingga sebagian siswa masih harus mengakses pendidikan ke wilayah lain.
Di sektor kesehatan, tantangan masih terlihat cukup nyata. Hanya 6,19 persen desa yang memiliki dokter, sedangkan desa yang memiliki fasilitas kesehatan baru mencapai 44,25 persen. Meski demikian, sebanyak 85,84 persen desa tercatat memiliki kemudahan akses menuju fasilitas kesehatan. Kondisi ini menunjukkan keberadaan layanan kesehatan masih terbatas meskipun akses menuju fasilitas yang tersedia relatif lebih baik.
Salah satu indikator yang menjadi perhatian adalah rendahnya cakupan imunisasi lengkap bagi balita yang baru mencapai 14,72 persen. Angka tersebut menunjukkan perlunya peningkatan layanan kesehatan preventif untuk mendukung kualitas kesehatan anak di wilayah tersebut.
Pada sektor ekonomi dan teknologi informasi, tingkat penggunaan internet oleh penduduk masih berada di angka 24,08 persen. Selain itu, hanya 25,41 persen penduduk yang bekerja di sektor non-pertanian, menandakan perekonomian daerah masih sangat bergantung pada sektor primer.
Sementara itu, proporsi pengeluaran rumah tangga untuk kebutuhan non-makanan mencapai 48,92 persen, yang dapat menjadi indikator peningkatan kesejahteraan dibanding wilayah yang masih didominasi pengeluaran pangan.
Dari sisi infrastruktur dasar, sebanyak 82,66 persen rumah tangga telah menggunakan listrik dan 90,81 persen rumah tangga memiliki akses telepon. Namun, akses terhadap air bersih masih menjadi pekerjaan rumah besar karena baru 38,16 persen rumah tangga yang tercatat menggunakannya.
Sementara itu, kualitas infrastruktur jalan menunjukkan kondisi yang cukup baik dengan 70,8 persen desa memiliki jalan utama berpermukaan aspal. Dari aspek sosial dan kebencanaan, sebanyak 61,06 persen desa tidak mengalami bencana, sedangkan 99,12 persen desa tercatat tidak mengalami konflik sosial, mencerminkan kondisi keamanan dan stabilitas sosial yang relatif kondusif.
Di bidang kesehatan ibu dan anak, sebanyak 82,57 persen perempuan usia 15-49 tahun yang melahirkan dalam dua tahun terakhir mendapatkan pertolongan tenaga kesehatan. Capaian ini menunjukkan tingkat kesadaran masyarakat terhadap layanan persalinan yang cukup baik, meskipun peningkatan kualitas dan pemerataan layanan kesehatan masih perlu terus dilakukan.
Secara keseluruhan, data tersebut menunjukkan Nias Utara masih menghadapi berbagai tantangan pembangunan yang memerlukan perhatian khusus, terutama pada peningkatan layanan kesehatan, akses air bersih, dan transformasi digital.
Di sisi lain, capaian pada sektor pendidikan, infrastruktur jalan, serta stabilitas sosial dapat menjadi modal penting untuk mendorong percepatan pembangunan dan mengurangi ketertinggalan daerah di masa mendatang.















