Deretan pemain film Operasi Pesta Copet. (Foto: Dok. Instagram @Imajinari.id)

Beranda / Infotaiment / Transformasi Iqbaal Ramadhan Demi Jadi Jamet Konser

Transformasi Iqbaal Ramadhan Demi Jadi Jamet Konser

PravadaNews – Iqbaal Ramadhan menanggalkan citra manisnya lewat film Operasi Pesta Copet. Film drama komedi produksi Imajinari itu mengambil latar festival musik, Pestapora, yang mempertemukan ribuan penonton dalam satu ruang.

Iqbaal, Kristo Immanuel, Zulfa Maharani, dan Kawai Labiba dipasang sebagai kelompok yang bergerak nekat sebelum Operasi Pesta Copet tayang di bioskop mulai 27 Agustus 2026.

Bagi Iqbaal, karakter tersebut menjadi pengalaman baru karena menuntutnya keluar dari persona yang selama ini melekat.

Dirinya tidak hanya mengubah penampilan, tetapi juga membangun gestur dan energi karakter yang lebih liar di ruang konser.

Baca Juga: Bosan Canggu? Intip Pesona Bali Utara!

“Saking jametnya, saya ditahan sama satpam Pestapora. Jadi pas lagi syuting di area Pestapora, satpamnya bilang ke saya, ‘Mas, maaf lagi ada yang syuting,’” ungkap Iqbaal dalam keterangan resmi yang diterima PravadaNews, Minggu (21/6/2026).

Di balik layar, Iqbaal juga menjalani peran baru sebagai produser kreatif untuk pertama kalinya dalam film panjang. Operasi Pesta Copet, jelasnya, menjadi proyek paling kompleks karena proses produksinya berlangsung di festival sungguhan.

Produser Ernest Prakasa menilai, film ini sebagai produksi Imajinari yang paling berani karena memakai Pestapora sebagai ruang cerita. Menurutnya, gagasan Edy Khemod sejak 2023 dipertahankan karena membawa komedi yang berangkat dari keresahan sosial.

Cerita copet konser itu dekat dengan pengalaman Sutradara Edy sekaligus pelaku di dunia musik. Karena itu, Operasi Pesta Copet tidak hanya mengejar tawa, tetapi juga menyinggung tekanan ekonomi di balik pilihan hidup seseorang.

Senada dengan itu, keberanian mengangkat cerita semacam ini hadir ketika film Indonesia semakin kuat di pasar domestik. Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyebut, film nasional telah menjadi tuan rumah di negeri sendiri dengan pangsa pasar 67%.

Fadli juga menyoroti tantangan distribusi karena akses bioskop belum merata di sejumlah daerah. Pemerataan layar, baginya, membutuhkan dukungan investasi agar masyarakat daerah lebih mudah menikmati film Indonesia.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *