PravadaNews – Likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) pada Mei 2026 menunjukkan pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya.
M2 tercatat tumbuh sebesar 10,8 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), meningkat dari pertumbuhan April 2026 yang sebesar 9,2 persen (yoy), sehingga mencapai Rp10.415,9 triliun.
“Peningkatan uang beredar tersebut didorong oleh pertumbuhan komponen uang beredar sempit (M1) yang mencapai 15,3 persen (yoy) serta pertumbuhan uang kuasi sebesar 6,0 persen (yoy),” ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangan tertulisnya, dikutip Rabu (24/5/2026).
Dari sisi faktor yang memengaruhi, perkembangan M2 pada Mei 2026 terutama ditopang oleh peningkatan penyaluran kredit dan pertumbuhan aktiva luar negeri bersih.
Penyaluran kredit tumbuh sebesar 10,8 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada April 2026 yang tercatat sebesar 9,4 persen (yoy).
Selain itu, aktiva luar negeri bersih juga menunjukkan kinerja yang lebih kuat.
Pada Mei 2026, komponen tersebut tumbuh sebesar 5,2 persen (yoy), meningkat dibandingkan pertumbuhan April 2026 yang sebesar 3,7 persen (yoy).
Kenaikan pertumbuhan kredit dan aktiva luar negeri bersih tersebut menjadi faktor utama yang mendorong akselerasi likuiditas perekonomian pada Mei 2026.
Kondisi ini mencerminkan masih terjaganya aktivitas intermediasi perbankan serta meningkatnya dukungan dari sektor eksternal terhadap pertumbuhan uang beredar.
Sebagai catatan, data kredit yang digunakan dalam perhitungan ini hanya mencakup pinjaman (loans) dan tidak termasuk instrumen keuangan yang dipersamakan dengan pinjaman, seperti surat berharga (debt securities), tagihan akseptasi (banker’s acceptances), dan tagihan repo.
Data tersebut juga tidak mencakup kredit yang diberikan oleh kantor bank umum yang berkedudukan di luar negeri maupun kredit yang disalurkan kepada Pemerintah Pusat dan bukan penduduk.















