PravadaNews – Di tengah kehidupan yang semakin bergantung pada koneksi digital, akses internet masih menjadi kemewahan bagi sebagian besar masyarakat di Kabupaten Mamberamo Raya, Papua.
Berdasarkan data terbaru dari Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) Republik Indonesia, dikutip Selasa (11/8/2026), menunjukkan penduduk yang menggunakan internet di wilayah tersebut baru mencapai 2,31 persen.
Angka itu menggambarkan masih lebarnya kesenjangan digital di Mamberamo Raya yang berstatus sebagai daerah tertinggal. Dari setiap 100 penduduk, hanya sekitar dua orang yang tercatat menggunakan internet.
Keterbatasan akses digital tersebut menjadi salah satu gambaran dari tantangan pembangunan yang dihadapi Mamberamo Raya. Internet saat ini tidak hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga semakin berkaitan dengan akses terhadap pendidikan, layanan kesehatan, informasi, hingga kegiatan ekonomi masyarakat.
Persoalan konektivitas juga terlihat dari indikator pembangunan lainnya. Data mencatat, hanya 3,39 persen desa di Mamberamo Raya yang memiliki permukaan jalan utama beraspal. Sementara itu, akses rumah tangga terhadap air bersih juga masih rendah, yakni baru mencapai 10 persen.
Di sektor kesehatan, ketersediaan tenaga medis menjadi tantangan tersendiri. Desa yang mempunyai dokter hanya mencapai 10,17 persen. Meski demikian, sebanyak 71,19 persen desa tercatat memiliki fasilitas kesehatan dan 81,36 persen desa relatif mudah mencapai fasilitas kesehatan.
Kondisi pendidikan menunjukkan gambaran yang berbeda. Partisipasi pendidikan tingkat SMP tercatat cukup tinggi, mencapai 95,34 persen. Namun, angka tersebut turun cukup jauh pada jenjang SMA yang hanya mencapai 61,18 persen.
Kesenjangan juga terlihat pada ketersediaan sekolah. Sebanyak 93,22 persen desa memiliki SD, tetapi hanya 25,42 persen desa yang mempunyai SMP. Sementara itu, desa yang mudah mencapai SMP tercatat sebesar 45,76 persen.
Keterbatasan akses internet dapat menjadi persoalan yang semakin penting ketika dikaitkan dengan kondisi tersebut. Teknologi digital berpotensi membantu masyarakat memperoleh informasi pendidikan, layanan publik, hingga membuka akses terhadap berbagai peluang ekonomi. Namun, manfaat tersebut sulit dirasakan secara merata ketika sebagian besar penduduk belum terhubung dengan internet.
Dari sisi ekonomi, penduduk Mamberamo Raya yang bekerja di sektor non-pertanian tercatat sebesar 12,86 persen. Rendahnya proporsi tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar aktivitas pekerjaan masyarakat masih berada di sektor pertanian atau sektor lainnya yang berkaitan dengan sumber daya alam.
Sementara itu, pengeluaran rumah tangga untuk kebutuhan non-makanan tercatat sebesar 13,13 persen. Angka tersebut menjadi salah satu indikator lain yang menggambarkan struktur ekonomi dan tingkat kesejahteraan masyarakat setempat.
Di sisi infrastruktur dasar, sebanyak 86,96 persen rumah tangga tercatat telah menggunakan listrik. Penggunaan telepon mencapai 56,7 persen. Namun, akses terhadap air bersih masih menjadi persoalan karena baru menjangkau 10 persen rumah tangga.
Mamberamo Raya juga memiliki kondisi sosial yang relatif stabil. Sebanyak 98,31 persen desa tercatat tidak mengalami bencana, sedangkan seluruh desa atau 100 persen tidak mengalami konflik sosial berdasarkan indikator yang digunakan.
Di bidang kesehatan ibu dan anak, tantangan masih terlihat dari cakupan imunisasi. Balita yang mendapatkan imunisasi lengkap tercatat baru mencapai 20,73 persen. Sementara itu, perempuan usia 15-49 tahun yang melahirkan dalam dua tahun terakhir dengan bantuan penolong persalinan tercatat sebesar 65,49 persen.
Rangkaian data tersebut menunjukkan bahwa persoalan pembangunan di Mamberamo Raya tidak berdiri sendiri. Rendahnya penggunaan internet berada di tengah sejumlah keterbatasan lain, mulai dari infrastruktur jalan, akses air bersih, ketersediaan dokter, hingga pemerataan fasilitas pendidikan.
Karena itu, angka 2,31 persen pengguna internet bukan sekadar statistik mengenai jumlah masyarakat yang terhubung ke dunia digital. Angka tersebut juga menjadi cermin bagaimana akses terhadap teknologi masih menghadapi tantangan besar di salah satu wilayah tertinggal di Papua.
Ketika internet semakin menjadi bagian dari kebutuhan dasar kehidupan modern, memperluas konektivitas di wilayah seperti Mamberamo Raya bukan hanya soal menghadirkan jaringan. Tantangannya adalah memastikan masyarakat memiliki akses yang terjangkau, infrastruktur yang memadai, serta kemampuan untuk memanfaatkan teknologi tersebut bagi pendidikan, kesehatan, komunikasi, dan peningkatan ekonomi.
Dengan demikian, mempersempit kesenjangan digital dapat menjadi bagian penting dari upaya mempersempit kesenjangan pembangunan secara lebih luas di Mamberamo Raya.















