PravadaNews – Upaya meningkatkan hasil panen padi masih menghadapi tantangan setelah produksi beras pada Agustus 2026 turun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Perlu diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan produksi beras untuk konsumsi penduduk pada Agustus 2026 mencapai 3,15 juta ton, turun 2,90% dari 3,24 juta ton pada Agustus 2025. Luas panen padi juga menyusut dari 1,11 juta menjadi 1,08 juta hektare.
Di tengah kondisi tersebut, Kementerian Pertanian (Kementan) memperluas penerapan teknologi tanam melalui metode Pertanian Modern–Advanced Agricultural System (PM-AAS) yang menggabungkan pola tanam rapat dengan sistem jajar legowo.
Kepala Pusat Perakitan dan Modernisasi Pertanian Tanaman Pangan Kementan, Haris Syahbuddin, menjelaskan metode tersebut telah diuji pada sekitar 2.000 hektare lahan di 15 provinsi. Hasil pengujian menunjukkan produktivitas rata-rata 10,4 ton per hektare pada musim hujan dan 10,2 ton pada musim kemarau.
Sebagai bagian dari perluasan program, Kementan melaksanakan gerakan tanam PM-AAS pada 100 hektare sawah di Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara, pada Rabu (30/10/2026). Kegiatan ini mendukung target penerapan metode seluas 37.768 hektare di provinsi Sumut.
Peningkatan jumlah tanaman melalui metode PM-AAS, lanjutnya, perlu diikuti pengelolaan bahan organik dan pemupukan yang tepat. Pendampingan penyuluh juga diperlukan untuk memantau pertumbuhan tanaman.
Sementara itu, Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University, Widodo, menyampaikan teknologi budidaya padi sawah sebenarnya sudah tersedia, tapi penerapannya masih perlu diperluas.
“Jadi, teknologi mungkin perlu dikembangkan. Mungkin ada yang sudah cukup mapan, bagaimana mereplikasi itu, bagaimana mensistemkan itu menjadi lebih besar. Itu mungkin menurut saya yang paling penting,” tutur Widodo dalam penjelasannya, dikutip Senin (12/10).
Meski demikian, Widodo mengungkapkan teknologi budidaya padi di lahan rawa dan lahan kering masih membutuhkan pengembangan lebih lanjut.
Selain teknologi, pentingnya peningkatan kemampuan sumber daya manusia juga perlu ditekankan, baik mulai dari petani hingga petugas kementerian dan pemerintah daerah yang mendukung kegiatan pertanian.
Widodo juga mengingatkan kesehatan tanah dan kondisi lingkungan perlu diperhatikan untuk menjaga keberlanjutan produksi padi.
Sebagai contoh, Widodo menceritakan persoalan budidaya yang awalnya diduga berasal dari mutu benih. Namun, setelah ditelusuri, masalah tersebut terutama berkaitan dengan rendahnya bahan organik, kondisi tanah berpasir, serta aliran air ke bagian sawah yang lebih rendah.
Dari pengalaman ini, Widodo menekankan pentingnya analisis kondisi lahan dan komunikasi dua arah dengan petani untuk menemukan penyebab masalah.
Selain itu, penerapan teknologi membutuhkan kesamaan tujuan dari seluruh pihak yang terlibat.
“Jadi, kalau suatu rekomendasi yang bagus, yang menurut kita baik, itu harus semua stakeholder itu pada tujuan yang sama dulu. Kalau kepentingan masing-masing itu harus ke arah kepentingan yang bersama tadi. Itu baru, insyaallah, teknologi yang sudah ada itu bisa terkawal,” kata Guru Besar IPB University tersebut.
Setiap program pertanian, tegasnya, harus menempatkan petani sebagai pelaku utama, bukan sekadar objek kebijakan. Kesejahteraan petani juga perlu diperhatikan agar kegiatan produksi padi dapat berlangsung secara berkelanjutan.















