Pravadanews – Erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi sejak Sabtu (5/9/2026) dini hari, menimbulkan abu vulkanik yang tersebar ke beberapa wilayah, seperti Jakarta, Banten, dan Lampung.
Namun, Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Meluas, Bagaimana Kondisi Kualitas Udara Jakarta, Banten, dan Sumatera Selatan?Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) justru mencatat kualitas udara di Jakarta dan Banten masih berada dalam kategori sedang meski telah meluas hingga kedua wilayah tersebut.
Berdasarkan pemantauan KLH/BPLH per Minggu (6/9/2026) pukul 14.00 WIB, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Jakarta GBK tercatat 64 atau kategori sedang.
Sementara di Banten, kualitas udara kategori Sedang tercatat di Serang Sumurpecung dengan ISPU 85, Tangerang Pasir Jaya 65, Tangerang Selatan Serpong 78, serta Cilegon Pulomerak 63.
Berbeda dengan Jakarta dan Banten, sejumlah wilayah di Sumatera bagian selatan mencatat kualitas udaranya masuk kategori Tidak Sehat hingga Sangat Tidak Sehat dengan parameter kritis dominan PM2.5.
Tiga wilayah tercatat masuk kategori Sangat Tidak Sehat, yakni Palembang Bukit Kecil dengan ISPU 216, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir 237, dan Kabupaten Ogan Ilir 213.
Sementara kategori Tidak Sehat tercatat di Kabupaten Lahat dengan ISPU 112, Musi Rawas 165, Prabumulih 139, Musi Banyuasin Serasan Jaya 128, Tebo 169, Jambi Paal Lima 166, serta Tanjung Jabung Timur Muara Sabak 114.
Pelaksana Tugas Deputi Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLH/BPLH, Noer Adi Wardoyo mengatakan, kondisi kualitas udara di Sumatera bagian selatan tidak bisa langsung dikaitkan dengan erupsi Gunung Anak Krakatau karena wilayah tersebut juga masih terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
“KLH/BPLH juga masih memperdalam hubungan langsung peningkatan partikulat dengan erupsi GAK yang memerlukan kajian teknis lebih lanjut,” kata Noer dalam keterangannya, Minggu.
Adapun analisis citra satelit per Minggu pukul 08.00 WIB menunjukkan sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau telah melingkupi Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian selatan, hingga Samudra Hindia.
Kondisi tersebut membuat pihak ya harus menurunkan tim teknis untuk memantau kualitas udara ambien, meliputi PM2.5 dan PM10 serta konsentrasi gas sulfur dioksida (SO₂). Pemantauan kualitas air laut juga dilakukan di pesisir Banten dan Lampung.
“Kondisi saat ini menuntut kita untuk lebih mawas diri seiring meluasnya abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Di tengah situasi ini, kepedulian terbesar kami di KLH/BPLH adalah memastikan Anda dan keluarga tetap sehat dan aman,” ujar Noer.
KLH/BPLH juga mengimbau masyarakat mengikuti informasi resmi pemerintah dan meningkatkan kewaspadaan apabila terjadi perubahan kualitas udara. Para kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita gangguan pernapasan, diminta berhati-hati dan menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan jika diperlukan.















