PravadaNews – Kepulan abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) membuat aktivitas masyarakat di sejumlah wilayah terdampak mengalami penyesuaian, termasuk kegiatan belajar mengajar.
Untuk menjaga keselamatan warga sekolah, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengatur penyesuaian pembelajaran di wilayah terdampak erupsi berdasarkan kondisi daerah masing-masing. Salah satu pertimbangannya yakni nilai Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU).
Mu’ti menyampaikan, sejumlah wilayah yang mengalami dampak cukup berat berada di Provinsi Banten dan Lampung. Wilayah tersebut di antaranya Kabupaten Serang, Pesisir Barat, Bandar Lampung, dan Lampung Selatan.
“Di daerah yang terdampak cukup berat, maka pembelajaran dapat dilaksanakan melalui pembelajaran di rumah secara daring, atau dilaksanakan di tempat tertentu yang aman melalui sarana pembelajaran daring, atau PJJ,” ujar Mu’ti dalam Konferensi Pers secara daring, Minggu (6/9/2026).
Menurutnya, kebijakan ini mengacu pada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 33 Tahun 2019 beserta petunjuk teknisnya serta Surat Edaran Mendikdasmen Nomor 1 Tahun 2026 tentang pembelajaran dalam situasi darurat.
Meski demikian, Kemendikdasmen tidak menetapkan secara langsung wilayah yang harus menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dan diserahkan kepada pemerintah daerah berdasarkan kondisi wilayah masing-masing.
Diketahui, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengalihkan sementara kegiatan pembelajaran seluruh satuan pendidikan mulai Senin (7/9) hingga pemberitahuan berikutnya sebagai langkah antisipasi. Senada dengan itu, Pemerintah Kota Serang juga menerapkan PJJ atau Belajar dari Rumah (BDR) bagi jenjang PAUD/TK, SD, dan SMP.
Adapun wilayah yang tidak terdampak langsung masih dapat melaksanakan pembelajaran tatap muka dengan protokol kesehatan. Sekolah diminta menggunakan masker, mengurangi aktivitas luar kelas, serta memastikan pintu dan jendela dapat mengurangi masuknya abu vulkanik.
“Kami sampaikan bahwa terkait dengan terjadinya musibah itu, kami menyampaikan bahwa perlindungan, keselamatan, serta kesehatan bagi warga sekolah ini kami pastikan untuk dapat menjadi prioritas,” tegas Mu’ti.
Senada dengan itu, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Fauzan mengimbau perguruan tinggi di wilayah terdampak untuk mengurangi aktivitas luar kampus.
“Oleh karena itu, aktivitas layanan kantor maupun proses pembelajaran dan aktivitas akademik yang lain dapat dilakukan secara daring, luring, atau hibrida, ataupun dengan cara yang dianggap lebih efektif dalam rangka untuk mengurangi risiko penyakit yang diakibatkan oleh debu erupsi tersebut,” ujar Fauzan dalam kesempatan yang sama.
Fauzan juga meminta pimpinan perguruan tinggi mengaktifkan posko siaga, berkoordinasi dengan pemerintah daerah, serta melibatkan para pakar untuk memantau perkembangan erupsi.
Kemendikdasmen dan Kemdiktisaintek memastikan hingga saat ini tidak terdapat korban jiwa dari kalangan murid, pendidik, maupun warga kampus. Selain itu, tidak terdapat laporan kerusakan pada infrastruktur sekolah maupun perguruan tinggi.















