PravadaNews – Kemampuan anggaran daerah menjadi pertimbangan pemerintah ketika kebutuhan bantuan harus segera dipenuhi setelah abu vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) menyebar ke sejumlah wilayah terdampak.
Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) menyiapkan skema bantuan dengan mempertimbangkan kebutuhan pemerintah daerah dan kondisi keuangan wilayah terdampak. Skema tersebut dilakukan melalui dua jalur, yakni berdasarkan permintaan daerah serta langkah pemerintah pusat apabila menemukan kebutuhan yang harus segera dipenuhi.
Menteri Dalam Negeri, Muhammad Tito Karnavian, mengatakan pemerintah masih memantau wilayah terdampak untuk menentukan bentuk dukungan yang diperlukan. Dukungan pusat akan disesuaikan dengan kebutuhan daerah, termasuk penyediaan logistik dan distribusi bantuan menuju wilayah terdampak.
“Ini kita sedang memantau kira-kira daerah mana, bisa dua arah, satu adalah dari request daerah-daerah ini, sisi apa yang diperlukan, dukungan pusat,” ujar Tito dalam konferensi pers daring, Minggu (6/9/2026).
Untuk mendukung pengiriman bantuan, pemerintah menyiapkan penggunaan jalur laut apabila kebutuhan logistik membutuhkan pengangkutan dalam jumlah besar. Pengiriman itu dapat dilakukan menggunakan kapal besar dari berbagai unsur yang memiliki kemampuan angkutan laut.
“Kita akan melakukan langkah operasi menggunakan kapal-kapal besar, terutama dari aset TNI AL, kemudian dari Kepolisian, dan BUMN yang bergerak dalam jasa angkutan laut untuk membantu,” jelas Tito.
Selain menunggu permintaan daerah, Tito menyebut pemerintah pusat juga menyiapkan bantuan bagi wilayah yang belum menyampaikan kebutuhan. Perhatian ini diberikan terutama kepada daerah dengan kapasitas fiskal terbatas karena anggaran belanja tidak terduga dapat mengalami keterbatasan menjelang akhir tahun.
Salah satu kebutuhan yang menjadi perhatian ialah penyediaan masker bagi masyarakat terdampak abu vulkanik GAK. Pemenuhan kebutuhan tersebut dapat dilakukan melalui koordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes).
Di sisi lain, Kemenkes memperkuat kesiapsiagaan layanan medis melalui aktivasi Health Emergency Operating Center (HEOC) di tingkat pusat hingga kabupaten/kota terdampak. Aktivasi HEOC dilakukan untuk memperkuat koordinasi penanganan kesehatan di wilayah terdampak abu vulkanik.
Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin mengimbau masyarakat membatasi aktivitas di luar rumah karena paparan abu vulkanik dapat berdampak terhadap kesehatan.
“Kalau tidak ada kegiatan mendesak, usahakan tetap di dalam rumah. Namun, jika harus keluar, pastikan selalu menggunakan masker dan kacamata,” ujar Budi dalam keterangan resminya.
Melalui HEOC, Kemenkes memastikan koordinasi kesiapan layanan kesehatan bersama pemerintah daerah terdampak. Adapun dukungan logistik medis seperti masker, alat bantu pernapasan, dan obat-obatan untuk menangani kebutuhan kesehatan masyarakat akibat paparan abu vulkanik.















