PravadaNews – Perum Bulog menggelontorkan beras premium hingga 75.000 ton per bulan melalui sejumlah jaringan ritel modern. Hal tersebut dilakukan untuk mempermudah akses warga terhadap beras premium, terutama di wilayah perkotaan.
Berdasarkan data alokasi penyaluran, pasokan beras premium tersebut disiapkan untuk sejumlah jaringan ritel modern yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Seperti, Jakarta, Makassar, Surabaya, Sidoarjo, Bojonegoro, Semarang, Klaten, Solo, Salatiga, Bandung, Karawang, Subang, hingga Kupang.
“Kami ingin memastikan masyarakat, khususnya di wilayah perkotaan, memiliki akses yang mudah terhadap beras premium,” ujar Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani dalam keterangannya, Jumat (11/9/2026).
Selain itu, pihaknya juga berencana mendistribusikan beras premium ke berbagai kota lainnya di Indonesia. Menurut Rizal, perluasan tersebut dilakukan untuk memenuhi kebutuhan konsumen yang dibutuhkan.
Maka dari itu, pasokan hingga 75.000 ton per bulan itu dialokasikan melalui sejumlah perusahaan pengelola jaringan ritel modern, antara lain PT Indomarco Prismatama, PT Megah Daya, PT Inti Cakrawala Citra, PT Sumber Alfaria Trijaya, PT Lion Super Indo, PT Swalayan Sukses Abadi, PT Matahari Putra Prima, PT Tip Top Supermarket, PT Midi Utama Indonesia, dan PT Hero Retail Nusantara.
“Dengan pasokan yang terus diperkuat dan distribusi yang semakin luas, kami berharap masyarakat dapat memperoleh beras premium dengan mudah,” kata dia.
Selain memperluas akses konsumen, pihak Bulog menyebut penguatan distribusi melalui ritel modern menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan pasokan beras di pasar.
Oleh karena itu, para perusahaan juga terus memantau perkembangan stok, distribusi, serta kebutuhan beras di berbagai wilayah.
“Bulog akan terus memastikan beras tersedia di berbagai kanal perdagangan,” ucap Rizal.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, telah penyalurankan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) sebanyak 1 juta ton untuk periode Oktober hingga Desember 2026.
Penyaluran tersebut dilakukan mengingat harga beras saat ini tengah mengalami kenaikan sekitar Rp 100 hingga Rp 200. Penyebabnya karena berkurangnya produksi selama musim kemarau.
“Karena supply and demand, tidak ada produksi pasti harganya naik. Nah, untuk merespons itu, maka kami baru saja rapat memutuskan kita tambah suplainya untuk beras subsidi yang kita kenal dengan SPHP,” ujar Zulkifli Hasan usai rapat pengelolaan dan penyaluran CPP di kantor Kemenko Pangan, Jakarta, Senin (7/9/2026).
Maka dari itu, pemerintah kemudian memutuskan menambah alokasi SPHP sebanyak 1 juta ton untuk menjaga pasokan beras selama tiga bulan terakhir tahun ini.
“Kita tambah lagi tadi 1 juta. Satu juta SPHP medium. Jadi beras yang disubsidi yang dijual di pasar kira-kira harganya Rp12.000-Rp12.500 paling mahal,” kata Zulkifli Hasan.















