Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan usai peluncuran buku Pangan Indonesia: Dari Piring Sehat ke Manusia Unggul di Jakarta International Conventional Center (JICC), Jakarta. (Foto: Dok. Nur Aida/PravadaNews) 

Beranda / Ekonomi / Garam Masuk Tahap Kemandirian Pangan

Garam Masuk Tahap Kemandirian Pangan

PravadaNews – Garam mulai memasuki tahapan kemandirian pangan dalam agenda swasembada pangan pada 2027. Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, mengatakan pemerintah menjalankan agenda kemandirian pangan secara bertahap dan tidak menggarap seluruh komoditas sekaligus. 

Setelah beras dan jagung, pemerintah mulai mengarahkan perhatian pada komoditas berikutnya, termasuk garam.

“Sekarang beras, jagung. Kemudian ini kita akan berkembang ke gula sama garam. Terus ikan, daging belakangan,” tutur Zulkifli saat ditemui di Jakarta International Conventional Center (JICC), Jakarta, Jumat (4/9/2026).

Menurutnya, ketergantungan terhadap impor membuat kebutuhan pangan nasional bergantung pada pasokan dari negara lain. 

Karena itu, pemerintah berupaya memperkuat produksi dalam negeri secara bertahap sebelum memperluasnya ke komoditas lain.

Pria yang akrab disapa Zulhas menilai, pemerintah perlu menentukan prioritas karena penguatan setiap komoditas membutuhkan kesiapan produksi yang berbeda.

“Oleh karena itu tidak semua kita lakukan sekaligus. Kita bertahap,” ujar Zulhas dalam kesempatan yang sama. 

Adapun Peraturan Presiden (Pepres) Nomor 17 Tahun 2025 menetapkan swasembada garam nasional harus diwujudkan pada 2027. Kebijakan tersebut sekaligus mengarahkan penguatan usaha pergaraman dalam negeri secara terpadu dan berkesinambungan.

Namun, produksi garam nasional pada 2025 tercatat 1,035 juta ton atau hanya 46,22% dari target 2,25 juta ton. Capaian ini juga turun dibandingkan produksi 2024 yang mencapai 2,04 juta ton.

KKP mencatat kebutuhan garam nasional berada pada kisaran 4,9 juta hingga 5 juta ton dengan lebih dari 3 juta ton digunakan industri.

Untuk menambah kapasitas produksi, KKP menyiapkan Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (K-SIGN) di Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT).

KKP memproyeksikan produktivitas K-SIGN dapat mencapai 200 ton per hektare per tahun melalui penggunaan teknologi produksi. Selain menopang swasembada, kawasan tersebut diarahkan membuka lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat pesisir di sekitar sentra produksi.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *