Pravadanews – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap kondisi cuaca di sekitar perairan Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, saat lima jurnalis dilaporkan hilang kontak ketika melakukan peliputan pada Senin (7/9/2026).
Plh Direktur Meteorologi Publik BMKG Ida Pramuwardani mengatakan, berdasarkan hasil pemantauan, kondisi cuaca di sekitar lokasi pada Senin siang hingga sore relatif baik. Tidak terdeteksi adanya hujan yang berpotensi mengganggu aktivitas di perairan tersebut.
“Untuk kondisi cuaca pada saat hilangnya jurnalis itu sekitar hari Senin, jam 2 sampai jam 6 sore itu kondisi cuacanya baik. Jadi, tidak terindikasi atau tidak terdeteksi adanya hujan,” ujar Ida dikutip Jumat (11/9).
Menurut Ida, kondisi cuaca saat itu cerah hingga berawan. Kecepatan angin yang terpantau juga tidak terlalu kuat, yakni maksimal sekitar 15 knot atau setara 7,5 meter per detik.
Selain angin, BMKG mencatat tinggi gelombang di perairan sekitar Anak Krakatau maksimal sekitar satu meter. Berdasarkan parameter cuaca dan gelombang tersebut, BMKG tidak menemukan kondisi signifikan yang dinilai dapat mengganggu keselamatan di sekitar perairan Gunung Anak Krakatau.
Meski demikian, kata Ida, kondisi abu vulkanik Gunung Anak Krakatau saat kejadian perlu menjadi perhatian. Pada Senin tersebut, abu vulkanik masih terpantau melalui citra satelit hingga ketinggian sekitar 50.000 kaki atau 15.000 meter.
“Nah, mungkin yang perlu diperhatikan adalah kondisi di sekitar Krakatau itu sendiri. Apakah di situ kondisinya banyak debu dan lain sebagainya. Karena pada saat hari Senin itu masih debu itu masih terpantau dari citra satelit sampai dengan ketinggian sekitar 50.000 feet, sekitar 15.000 meter,” jelas Ida.
Adapun saat ini, kondisi cuaca relatif baik. Bahkan, berdasarkan prakiraan BMKG, hingga tiga hari ke depan tidak terlihat adanya potensi hujan signifikan di sekitar Gunung Anak Krakatau.
Diketahui, Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (KPP) Banten, Al Amrad menyebut, perluasan pencarian dilakukan usai pihaknya melakukan penyisiran di sisi selatan Gunung Anak Krakatau.
Saat itu, pencarian sudah mencapai area hingga radius sekitar 20 nautical mile (NM) dari titik tengah gunung tersebut.
Adapun dalam penentuan area pencariannya mempertimbangkan sejumlah faktor, mulai dari pergerakan arus laut, pergeseran ombak, hingga arah angin di sekitar perairan Selat Sunda.
Tim SAR gabungan juga terus mengevaluasi kebutuhan penambahan personel maupun armada untuk memperkuat operasi pencarian. Evaluasi tersebut dilakukan berdasarkan pelaksanaan operasi SAR pada Rabu (9/9/2026).
Selain unsur Basarnas, TNI Angkatan Laut juga tetap terlibat dalam operasi pencarian. Melalui Danlanal, mereka mengerahkan kapal berukuran besar untuk menyisir dan bersiaga dengan lego jangkar di sekitar lokasi operasi.
“Operasi yang tengah berjalan difokuskan pada pencarian, mengingat kondisi medan yang tidak memungkinkan untuk melakukan evakuasi penyelamatan secara langsung,” ujar Al Amrad dalam keterangannya, Kamis (10/9).















