Pravadanews – Satu korban dari rombongan jurnalis yang hilang kontak di perairan Selat Sunda saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau ditemukan meninggal dunia di Pulau Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu.
Korban diketahui bernama Surahman, anak buah kapal (ABK) speedboat Arupadhatu 1 yang membawa rombongan lima jurnalis.
Identitas Surahman dipastikan setelah tim Disaster Victim Investigation (DVI) melakukan pemeriksaan dan pencocokan DNA.
Kapolda Banten, Irjen Pol Hengki mengatakan, jenazah awalnya ditemukan tanpa identitas atau Mr. X di perairan Sawang Beko, Desa Kahyapu, Kecamatan Enggano, pada Sabtu (12/9/2026).
Saat ditemukan, jenazah mengenakan celana pendek berwarna hitam. Korban diperkirakan memiliki tinggi sekitar 163 sentimeter dan berusia sekitar 50 tahun.
Setelah mendapatkan informasi mengenai penemuan tersebut, Polda Banten berkoordinasi dengan Polda Bengkulu untuk melakukan proses identifikasi.
Data antemortem dari keluarga delapan orang yang berada di kapal AL 411 kemudian dikirim untuk dicocokkan dengan jenazah.
“Hasil identifikasi seorang mayat Mr. X yang ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu, secara genetik PM/64/P.Enggano/01, itu kode jenazah Mr. X tadi, teridentifikasi sebagai Surahman atau ABK kapal, ayah biologis dari Tuan Yayan,” kata Hengki dikutip Rabu (23/9).
Menurut Hengki, pemeriksaan dilakukan oleh Pusdokkes Polri dengan mencocokkan sejumlah data primer, mulai dari sidik jari, gigi hingga DNA. Hasil pemeriksaan DNA tersebut menjadi dasar kepolisian memastikan identitas jenazah.
Kemudian, jenazah Surahman selanjutnya akan diberangkatkan dari Bengkulu menuju Bandara Soekarno-Hatta. Jenazah rencananya diterima oleh tim gabungan dari sejumlah instansi.
Sementara itu, keberadaan speedboat Arupadhatu 1 hingga kini belum ditemukan.
Hengki mengatakan, pihaknya belum dapat memastikan apakah kapal tersebut tenggelam, terbakar, atau mengalami kejadian lainnya.
“Kepastian kapal itu tenggelam, terbakar, hilang dan sebagainya saya tidak tahu. Yang pasti dari saat ini sampai dengan sekarang, kapalnya tidak ditemukan,” ucap Hengki.
Sebelumnya, pencarian terhadap lima jurnalis itu telah diperluas usai pihak Tim SAR melakukan penyisiran di sisi selatan Gunung Anak Krakatau.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (KPP) Banten, Al Amrad menyebut, perluasan dilakukan usai pihaknya penyisiran di sisi selatan Gunung Anak Krakatau. Saat itu, pencarian sudah mencapai area hingga radius sekitar 20 nautical mile (NM) dari titik tengah gunung tersebut.
Adapun dalam penentuan area pencariannya mempertimbangkan sejumlah faktor, mulai dari pergerakan arus laut, pergeseran ombak, hingga arah angin di sekitar perairan Selat Sunda.
Namun, pada hari ke-10, pencarian tersebut dihentikan. Gubernur Banten, Andra Soni mengatakan, keputusan tersebut diambil setelah mempertimbangkan pelaksanaan operasi pencarian yang telah berlangsung selama 10 hari tetapi belum membuahkan hasil.
“Sudah tidak efektif maka dengan berat hati pelaksanaan operasi gabungan ini dinyatakan dihentikan,” kata Andra Soni, yang dikutip Jumat (18/9).
Meski operasi SAR gabungan dihentikan, upaya untuk memperoleh informasi mengenai keberadaan rombongan tersebut tidak sepenuhnya berakhir.
Tim SAR telah berkoordinasi dengan nelayan dan masyarakat sekitar agar segera melaporkan apabila menemukan benda atau petunjuk yang diduga berkaitan dengan KM Arupadhatu I. Nantinya, setiap informasi baru yang diterima, akan menjadi dasar bagi petugas untuk melakukan pencarian kembali di lokasi yang dilaporkan.
“Semoga kita mendapatkan informasi yang bisa kita tindak lanjuti dan terima kasih kepada rekan media yang 10 hari ini terus membantu operasi ini,” kata Andra Soni.















