PravadaNews – Menanamkan disiplin dan jiwa kepemimpinan kepada generasi muda tak cukup hanya melalui baris-berbaris dan latihan fisik.
Dibutuhkan pula kemampuan mendidik, berkomunikasi, serta membimbing sesama dengan pendekatan yang aman dan bebas dari kekerasan.
Semangat itulah yang mewarnai Training of Trainer Purna Paskibra Gedung Joang 45 (PPGJ) di Jakarta pada 24–25 Oktober 2026.
Sebanyak 27 siswa SMP dari berbagai sekolah mengikuti pelatihan ini untuk dipersiapkan menjadi generasi muda yang tak hanya berkarakter dan berjiwa pemimpin, tetapi juga mampu menjadi pelatih kompeten dengan metode pendidikan yang terstruktur, humanis, dan bertanggung jawab.
Ketua Umum PPGJ, Citra Ratih Indriani menyebut pelatihan tersebut dirancang untuk memastikan proses regenerasi organisasi berlangsung.
Kaderisasi dilakukan melalui sistem pendidikan yang berkualitas dan bertanggung jawab.
“Bukan sekadar menyiapkan anggota yang mampu melatih baris-berbaris, lebih dari itu. Membentuk calon pelatih memahami cara mendidik, kemampuan kepemimpinan, dan mentransfer pengetahuan metode yang benar, aman, serta terstruktur,” kata Citra dikutip Senin (26/10/2026).
Citra menekankan, regenerasi organisasi kepemudaan harus dibangun melalui pendekatan pendidikan.
Kaderisasi harus mengedepankan keteladanan, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap peserta didik.
“Menjadi senior bukan berarti memiliki kekuasaan atas junior, seorang pelatih justru harus mampu menjadi teladan, membimbing. Dan menciptakan lingkungan belajar yang positif, kepemimpinan tidak dibangun melalui rasa takut, melainkan melalui kepercayaan dan keteladanan,” ucap Citra.
Salah satu materi yang diberikan dalam pelatihan tersebut adalah Retorika dan Public Speaking oleh Prasenja.
Pemateri Prasenja merupakan Koordinator Humas Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Kemenko Infra).
Materi bertajuk Retorika, Dari Kata hingga Berdampak, Prasenja menekankan kemampuan berbicara bukan hanya tentang keberanian tampil di publik.
Tetapi juga bagaimana seseorang mampu menyampaikan gagasan, membangun kepercayaan, dan menggerakkan orang lain.
“Semua orang bisa berbicara, tetapi tidak semua bisa didengar. Seorang pemimpin harus mampu menyampaikan gagasan dengan jelas, membangun kepercayaan, dan menghadirkan dampak melalui kata-katanya,” ujar Prasenja.
Peserta juga diperkenalkan pada tiga fondasi retorika, yakni logos atau kekuatan logika, ethos yang berkaitan dengan kredibilitas pembicara.
Serta fondasi retorika ketiga, yaitu pathos atau kemampuan membangun hubungan emosional dengan audiens.
Peserta mempelajari teknik menyusun pesan, mengelola rasa gugup, menggunakan bahasa tubuh, hingga membangun kepercayaan diri berbicara di publik.
Melalui pendekatan Think, Speak, Impact, peserta diajak memahami komunikasi efektif dimulai dari kejernihan berpikir, dan ketepatan berbicara.
“Pemimpin yang baik tidak hanya memiliki gagasan, tetapi juga mampu meyakinkan dan menggerakkan orang lain. Karena kepemimpinan dimulai dari keberanian mengambil peran,” pungkas Prasenja.
Para peserta mendapatkan pembekalan strategi pengelolaan media sosial dari Hendri Teja, Tenaga Ahli Menteri ATR/BPN. Pemateri juga dikenal sebagai kreator konten sejarah melalui kanal YouTube.
Melalui materi Paskibra Cerdas Digital, Strategi Asyik Bermedia Sosial, Hendri mengajak peserta memahami media sosial sebagai ruang belajar.
Selain itu, juga pengembangan kreativitas, dan sarana menyampaikan pesan positif kepada masyarakat.














