PravadaNews – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan Kamis, 29 Oktober 2026, di zona hijau dengan kenaikan 0,43 persen ke level 5.305,19.
Meski dibuka menguat dibandingkan penutupan hari sebelumnya, laju indeks diperkirakan masih bergerak mendatar (sideways) di tengah sikap pelaku pasar yang mencermati arah kebijakan moneter Amerika Serikat setelah bank sentral AS atau The Fed memutuskan mempertahankan suku bunga.
“Seperti yang diperkirakan, the Fed mempertahankan suku bunga di kisaran 3,75 persen – 4,00 persen pada pertemuan Oktober 2026. The Fed memilih menunda perubahan suku bunga hingga setelah pemilu sela di AS pekan depan, sambil menunggu data arah inflasi,” kata Tim Analis Phintraco Sekuritas.
Pada Rabu kemarin, IHSG ditutup menguat 0,31 persen ke level 5.282, sebelumnya IHSG sempat tertekan hingga level 5.167.
Tekanan disebabkan sentimen negatif dari harga minyak yang masih tinggi, depresiasi rupiah serta antisipasi rebalancing indeks MSCI bulan November.
“Namun penguatan pada saham bluechips seperti BBCA dan ASII mendorong penguatan IHSG. Secara teknikal, diperkirakan IHSG akan bergerak sideways pada kisaran 5.150-5.350 pada perdagangan hari ini,” ujar Tim Phintraco.
Pada perdagangan Rabu kemarin juga terjadi net buy (beli bersih) saham oleh investor asing sebesar Rp257,74 miliar.
Saham yang paling banyak dibeli asing adalah BBCA, BOGA, ASII, GOTO dan DEWA.
Tim Phintraco Sekuritas juga mencermati hasil Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) BEI.
BEI mempertegas tiga prioritas strategis pasar modal tahun 2027, yaitu meningkatkan transparansi, memperkuat likuiditas dan mengoptimalkan efektivitas pengawasan.
“Langkah ini menjadi bagian dari upaya untuk memulihkan kepercayaan investor di tengah tuntutan reformasi tata kelola pasar modal,” ucap Tim Phintraco.
BEI juga menurunkan target IPO saham menjadi 15 perusahaan pada tahun 2026 dari target awal sebanyak 50 perusahaan.
“Di tengah berkurangnya kepercayaan investor akan pasar modal Indonesia, sebaiknya IPO lebih mengutamakan kualitas daripada kuantitas. BEI juga membuka peluang untuk IPO setelah proses demutualisasi bursa selesai dilakukan,” ujar Tim Phintraco menutup analisisnya.














