Peternak Ayam petelur.. (Foto: Dok. PravadaNews)

Beranda / Ekonomi / Klaim Swasembada Telur-Daging Ayam tapi Peternak Belum Sejahtera

Klaim Swasembada Telur-Daging Ayam tapi Peternak Belum Sejahtera

PravadaNews – Klaim swasembada pangan pemerintah belum sepenuhnya mencerminkan kesejahteraan peternak ayam dan telur di Indonesia. Pasalnya, harga jual di tingkat peternak masih rendah dan bahkan jauh di bawah biaya pokok produksi.

Pengamat pangan dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Khudori, menilai persoalan tersebut menjadi salah satu pekerjaan rumah pemerintah meskipun telah mengklaim keberhasilan swasembada delapan komoditas pangan.

Menurut Khudori, keberhasilan memenuhi kebutuhan konsumsi dari produksi domestik seharusnya tidak hanya dilihat sebagai pencapaian angka produksi. Pemerintah juga perlu memastikan peternak memperoleh harga jual yang layak agar keberlangsungan usaha mereka tetap terjaga.

Khudori menyoroti kondisi harga telur dan daging ayam di tingkat peternak yang hingga kini masih tertekan. Bahkan, persoalan tersebut disebut telah berlangsung selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun tanpa penyelesaian konkret.

“Harga telur + daging ayam di kandang peternak terus rendah. Jauh dari biaya pokok produksi. Sudah berbilang bulan, bahkan tahun, belum ada solusi konkret,” kata Khudori kepada PravadaNews, Jumat (30/10/2026).

Khudori juga menyinggung program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sejak awal diharapkan menjadi salah satu instrumen untuk menyerap produksi telur dan daging ayam dalam negeri. Program tersebut semestinya dapat membuka pasar yang lebih luas bagi peternak sekaligus membantu menjaga permintaan.

Namun, menurut Khudori, pelaksanaan program MBG belum memberikan dampak sesuai harapan terhadap penyerapan hasil produksi peternak. Akibatnya, persoalan harga jual yang rendah masih menjadi beban bagi pelaku usaha peternakan.

“MBG yang digadang-gadang jadi bagian solusi yang menyerap telur + daging ayam, jauh panggang dari api,” ujar Khudori.

Kondisi tersebut menjadi catatan penting di tengah klaim pemerintah mengenai keberhasilan swasembada delapan komoditas pangan. Sebab, peningkatan produksi belum tentu memberikan manfaat ekonomi secara merata apabila peternak sebagai produsen masih menghadapi tekanan harga.

“Capaian swasembada terasa hambar dan kurang bermakna ketika problem laten menahun tak juga terselesaikan. Membanggakan produksi yg melampaui konsumsi adalah kebanggaan semu,” ujar Khudori. 

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *