PravadaNews – Pembangunan Flyover Bulak Kapal di Kota Bekasi menjadi langkah penting untuk mengurai persoalan lalu lintas yang selama ini membayangi mobilitas masyarakat.
Namun, di balik upaya menghadirkan infrastruktur yang lebih memadai, kelancaran perjalanan warga selama proses pembangunan menjadi tantangan yang tak kalah penting untuk diantisipasi.
Kemacetan dan perubahan arus kendaraan berpotensi menjadi konsekuensi yang harus dihadapi pengguna jalan.
Karena itu, Pemerintah Kota Bekasi mulai menyiapkan sejumlah jalur alternatif agar aktivitas masyarakat tetap berjalan tanpa terganggu secara berlebihan selama proyek berlangsung.
Wali Kota Bekasi Tri Adhianto mengatakan, terdapat dua jalur alternatif yang dapat dimanfaatkan masyarakat, yakni kawasan Ampera dan Jalan Muhammad Yamin.
Kedua jalur tersebut disiapkan untuk menjaga kelancaran mobilitas kendaraan sekaligus menjadi pilihan bagi pengguna jalan dalam menyesuaikan perjalanan.
Tak berhenti di situ, Pemkot Bekasi juga mengomunikasikan kemungkinan pemanfaatan jalan frontage milik perkeretaapian sebagai jalur konektivitas tambahan.
Jika dapat direalisasikan, jalur tersebut berpotensi menghubungkan kawasan Rawa Panjang, Bulak Kapal, Ampera, hingga Jalan Muhammad Yamin, sehingga memberikan lebih banyak pilihan akses bagi masyarakat selama pembangunan berlangsung.
“Konektivitas tersebut tidak hanya membantu mengurai kepadatan lalu lintas. Tetapi juga berpotensi mendorong pertumbuhan aktivitas ekonomi masyarakat,” kata Tri dikutip Sabtu (31/10/2026).
Pihaknya menegaskan, pentingnya dukungan masyarakat dalam menyukseskan pembangunan.
Terlebih, proyek tersebut mendapatkan perhatian pemerintah pusat dengan nilai anggaran pembangunan yang mencapai hampir Rp188 miliar.
“Anggarannya cukup besar, hampir Rp188 miliar. Kalau harus ditanggung melalui APBD, tentu cukup berat bagi pemerintah daerah. Karena itu, perhatian dan dukungan pemerintah pusat ini harus kita tangkap dengan baik,” kata Tri.
Tri mengatakan, pembangunan Flyover Bulak Kapal merupakan langkah penting dalam meningkatkan keselamatan dan kelancaran arus kendaraan.
Khususnya di kawasan perlintasan sebidang kereta api yang selama ini menjadi salah satu titik kepadatan lalu lintas.
“Setelah flyover beroperasi, penutupan perlintasan sebidang perlu menjadi bagian dari penataan lalu lintas. Yakni guna meningkatkan keselamatan pengguna jalan dan mengurangi potensi konflik antara kendaraan dengan perjalanan kereta api,” pungkas Tri.
Sekadar informasi, proses pembangunan Flyoever Bulak Kapal rencananya akan dimulai pada 15 November 2026 tahun ini.
Proyek tersebut diperkirakan memakan waktu 16 hari kerja atau rampung pada Tahun 2028 mendatang.














