Ilustrasi Rupiah. (Foto: Dok Pribadi)

Beranda / Ekonomi / RI Perkuat Mata Uang Lokal

RI Perkuat Mata Uang Lokal

PravadaNews – Indonesia melalui Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Johor Bahru di Malaysia, bekerja sama dengan perwakilan Bank Indonesia (BI) di Singapura, terus mendorong penguatan penggunaan mata uang lokal dalam transaksi antarnegara sebagai langkah strategis memperkuat ketahanan ekonomi regional.

Inisiatif ini dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap mata uang asing, khususnya dolar Amerika Serikat, sekaligus meningkatkan efisiensi transaksi perdagangan dan investasi lintas batas.

Melalui berbagai forum dan kerja sama bilateral, kedua perwakilan tersebut aktif mengedukasi pelaku usaha serta pemangku kepentingan terkait manfaat penggunaan mata uang lokal dalam sistem pembayaran internasional.

Baca juga: Rupiah Menguat ke Rp16.986 per Dolar AS

Selain itu, langkah ini juga sejalan dengan upaya memperdalam integrasi ekonomi kawasan serta menjaga stabilitas nilai tukar di tengah dinamika global yang kian kompleks dan penuh ketidakpastian.

Penggunaan mata uang lokal dinilai dapat memacu kedaulatan ekonomi dua negara, yakni Indonesia dan Malaysia, di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik global dan kerentanan ekonomi dunia, mengingat ketergantungan pada mata uang pihak ketiga seperti dolar AS semakin dipandang tidak efisien dan berisiko.

KJRI Johor Bahru dalam keterangan Sabtu (4/4/2026) menyampaikan, fluktuasi nilai tukar, biaya konversi berlapis, serta tekanan eksternal mendorong perlunya alternatif yang lebih stabil dan berdaulat.

Dalam konteks tersebut, penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral menjadi sebuah solusi yang semakin relevan.

Indonesia dan Malaysia, menurut keterangan tersebut, sebenarnya telah memiliki kerangka kerja Local Currency Transaction (LCT), yakni penyelesaian transaksi antarnegara dengan penggunaan mata uang lokal (rupiah dan ringgit) tanpa perantara mata uang pihak ketiga. Namun, implementasinya dinilai masih belum optimal.

Meskipun penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan meningkat signifikan dalam beberapa tahun terakhir, sebagian besar transaksi masih bergantung pada mata uang global.

Sebagai salah satu upaya meningkatkan penggunaan mata uang lokal dalam transaksi, KJRI Johor Bahru dan perwakilan Bank Indonesia di Singapura menggelar forum strategis bertajuk “Leveraging the Benefits of Local Currency Transactions (LCT) Indonesia–Malaysia to Support Bilateral Economic Growth” di Johor Bahru, Rabu (1/4).

Dalam kegiatan tersebut, Analis Eksekutif Kantor Perwakilan Bank Indonesia di Singapura Budi Satria menegaskan bahwa LCT merupakan solusi taktis untuk meningkatkan efisiensi transaksi lintas negara.

Dengan dukungan infrastruktur pembayaran modern berbasis barcode seperti QRIS (Indonesia) dan DuitNow (Malaysia), penggunaan rupiah dan ringgit secara langsung mampu memperkuat konektivitas keuangan yang memberikan manfaat nyata bagi dunia usaha, termasuk usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).

Budi menyampaikan meski kerangka kerja LCT telah dirintis kedua negara sejak tahun 2016, tetapi pemanfaatannya masih perlu diakselerasi.

Sebagai gambaran, pangsa penyelesaian perdagangan Malaysia-Indonesia dalam mata uang lokal baru mencapai sekitar 16,3 persen atau setara 10,6 miliar ringgit pada tahun 2025.

Sementara itu, Konsul Jenderal RI Johor Bahru Sigit S Widiyanto mengatakan Indonesia memiliki hubungan erat dengan Malaysia, khususnya dengan Negara

Bagian Johor di berbagai aspek, seperti geografis, sosial, budaya, sejarah dan ekonomi.

Konjen Sigit memberikan contoh 8 dari 11 terminal feri penumpang internasional yang menghubungkan kedua negara berada di Johor.

Mobilitas warga kedua negara pun tercatat sangat intensif. Pada tahun 2025 tercatat 2,6 juta wisatawan Malaysia berkunjung ke Indonesia, sedangkan 3,8 juta wisatawan Indonesia mengunjungi Malaysia untuk keperluan pariwisata, kesehatan, hingga pendidikan.

Kedua negara juga saling menjadi mitra dagang utama dan saat ini pemimpin kedua negara memiliki hubungan yang sangat erat dan dekat.

Oleh karena itu Sigit mendorong para pelaku usaha untuk meningkatkan penggunaan LCT dengan konsep LAJU yakni:

  1. L – Local Currency: Mendorong mata uang lokal sebagai pilihan utama guna mencapai efisiensi dan kedaulatan ekonomi.
  2. A – Accelerate Adoption: Mempercepat adopsi oleh sektor perbankan dan pebisnis mengingat infrastruktur teknis sudah tersedia.
  3. J – Joint Growth: Menempatkan LCT sebagai instrumen pertumbuhan bersama yang memberikan keuntungan setara bagi kedua negara dan kawasan.
  4. U – Unlock Potential: Mengoptimalkan potensi besar yang selama ini terhambat, terutama di sektor perdagangan, pariwisata, pendidikan, hingga mobilitas talenta profesional.

KJRI Johor Bahru menekankan bahwa pendekatan LAJU menegaskan LCT bukan sekadar instrumen teknis, tetapi strategi untuk memperkuat kedaulatan ekonomi dan memperdalam integrasi kawasan.

Manfaat nyata

Dalam sesi diskusi yang menghadirkan pakar dari Bank Indonesia, Bank Negara Malaysia, dan Atase Perdagangan KBRI Kuala Lumpur, disampaikan berbagai manfaat praktis penggunaan LCT.

Sistem itu secara efektif menghilangkan biaya double conversion (konversi ganda melalui dolar AS) yang selama ini membebani pelaku usaha, dan menurunkan biaya logistik. Sistem itu dinilai akan meningkatkan efisiensi serta memberikan kepastian nilai tukar yang lebih stabil.

Bagi masyarakat umum, LCT mempermudah pembayaran biaya sekolah anak di luar negeri hingga pembayaran tagihan rumah sakit tanpa harus khawatir dengan fluktuasi mata uang global.

LCT juga menjadi instrumen penting untuk memperkuat ketahanan sistem keuangan regional.

Meski demikian, para narasumber mengakui adanya tantangan berupa dominasi psikologis dolar AS dan keterbatasan pemahaman masyarakat mengenai mekanisme kurs lokal.

Sebagai tindak lanjut, forum itu menyepakati perlunya edukasi yang lebih masif serta transparansi penetapan kurs oleh bank-bank penunjuk (Appointed Cross Currency Dealers atau ACCD) agar LCT digunakan secara luas oleh masyarakat kedua negara saat melakukan transaksi bilateral.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh sekitar 90 pelaku usaha yang merepresentasikan berbagai sektor vital, mulai dari perbankan dan lembaga remitansi, hingga pengelola rumah sakit swasta, institusi pendidikan, serta para eksportir dan importir.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *