PravadaNews – Bandara Internasional Soekarno-Hatta masih menghentikan sementara operasional penerbangan hingga Senin (7/9/2026) pukul 08.59 WIB. Penghentian operasional dilakukan menyusul aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang hingga saat ini masih aktif dan berstatus Siaga.
“Sehubungan dengan meningkatnya aktivitas Erupsi Gunung Anak Krakatau, Bandara Internasional Soekarno-Hatta melakukan penghentian operasional penerbangan sampai pukul 08.59 WIB,” ujar Assistant Deputy Communication & Legal PT Angkasa Pura Indonesia Kantor Cabang Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Yudistiawan saat dikonfirmasi, Senin (7/9/2026).
Adapun dampak erupsi Gunung Anak Krakatau terhadap penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta juga cukup besar. Hingga kini, tercatat sebanyak 923 penerbangan yang terdampak akibat kondisi tersebut.
Dari jumlah itu, sebanyak 671 merupakan penerbangan domestik dan 232 penerbangan internasional. Selain penerbangan penumpang, sebanyak 20 penerbangan kargo turut terdampak.
Tak hanya penerbangan, penghentian operasional Bandara Soekarno-Hatta juga berdampak terhadap 119.215 calon penumpang pesawat. Alhasil, sebagian penumpang ada yang memilih untuk pengembalian dana, tapi ada juga yang melakukan penjadwalan ulang.
“Masing-masinh maskapai memberikan pilihan, apakah mau di refund atau di reschedule,” kata Yudistiawan.
Pihak Bandara Soekarno-Hatta pun mengimbau calon penumpang untuk memastikan kembali status penerbangannya melalui maskapai masing-masing sebelum berangkat menuju bandara.
Manajemen Bandara Soekarno-Hatta juga menyampaikan permohonan maaf kepada pengguna jasa atas gangguan operasional yang terjadi akibat erupsi Gunung Anak Krakatau.
Diketahui, dampak erupsi dari Gunung Anak Krakatau tercatat terjadi di tiga kabupaten dan 15 kecamatan. Wilayah tersebut tersebar di Kabupaten Lampung Selatan sebanyak tujuh kecamatan, Kabupaten Pandeglang empat kecamatan, serta Kabupaten Tanggamus empat kecamatan.
Sementara itu, Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria menjelaskan, aktivitas Gunung Anak Krakatau telah mengalami peningkatan kegempaan dan aktivitas permukaan sejak Kamis (2/7/2026).
Kondisi tersebut ditandai dengan erupsi yang terus berulang dan memperlihatkan masih adanya suplai magma serta gas di dalam sistem gunung api.
“Erupsi yang sering tidak otomatis berarti akan terjadi erupsi yang lebih besar, sehingga evaluasi dilakukan berdasarkan seluruh parameter pemantauan, bukan hanya tinggi kolom erupsi,” kata Lana Saria.
Kemudian pada Jumat (4/9) pukul 23.00 WIB, Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi menerus dengan fenomena lava fountain yang disertai suara gemuruh dan dentuman yang terdengar di sejumlah wilayah.
Sebagai langkah mitigasi, Badan Geologi menetapkan larangan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat aktivitas gunung serta meminta masyarakat mengikuti informasi resmi terkait perkembangan erupsi.















