Ilustrasi Bawang dan beras. (Foto: PravadaNews)

Beranda / Ekonomi / Bawang dan Beras Kompak Ngegas Harga

Bawang dan Beras Kompak Ngegas Harga

PravadaNews – Kenaikan harga sejumlah bahan pangan pokok kembali menjadi sorotan masyarakat dalam beberapa waktu terakhir.

Berdasarkan data terbaru yang dikutip dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional yang dikelola oleh Bank Indonesia pada Selasa (14/4/2026), harga komoditas strategis seperti bawang merah, bawang putih, hingga beras mengalami lonjakan yang cukup signifikan.

Kondisi ini dinilai berpotensi menambah beban pengeluaran rumah tangga, khususnya bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

Harga bawang merah ukuran sedang tercatat mengalami kenaikan sebesar 12,57 persen, sehingga kini berada di angka Rp53.300. Kenaikan ini tergolong cukup tinggi dibandingkan periode sebelumnya dan diperkirakan dipengaruhi oleh sejumlah faktor, seperti distribusi yang terganggu, biaya produksi yang meningkat, hingga kondisi cuaca yang kurang mendukung hasil panen.

Baca juga: Beras dan Minyak Naik Dompet Menjerit

Tak hanya bawang merah, harga bawang putih ukuran sedang juga ikut mengalami peningkatan. Komoditas ini naik sebesar 8,03 persen dengan harga terbaru mencapai Rp43.700.

Kenaikan harga bawang putih diduga berkaitan dengan ketergantungan terhadap impor serta fluktuasi nilai tukar yang turut memengaruhi harga di tingkat pasar domestik.

Selain komoditas hortikultura, harga beras sebagai bahan pangan utama masyarakat Indonesia juga mengalami kenaikan. Beras kualitas bawah I tercatat naik sebesar 10,69 persen menjadi Rp16.050. Sementara itu, beras kualitas bawah II mengalami kenaikan sebesar 7,22 persen dengan harga mencapai Rp15.600.

Kenaikan harga beras ini menjadi perhatian serius mengingat perannya sebagai makanan pokok mayoritas masyarakat. Faktor-faktor seperti peningkatan biaya distribusi, berkurangnya pasokan akibat musim panen yang belum optimal, serta tingginya permintaan pasar diduga menjadi penyebab utama lonjakan harga tersebut.

Sejumlah pedagang di pasar tradisional mengaku kenaikan harga ini mulai dirasakan dalam beberapa pekan terakhir. Mereka menyebutkan pasokan dari distributor cenderung berkurang, sementara permintaan tetap tinggi, sehingga mendorong harga naik secara bertahap.

Di sisi lain, konsumen berharap pemerintah segera mengambil langkah untuk menstabilkan harga. Upaya seperti operasi pasar, penguatan cadangan pangan, serta pengawasan distribusi dinilai penting untuk menekan lonjakan harga agar tidak semakin membebani masyarakat.

Pada Senin (13/4), Pengamat Ekonomi dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin menjelaskan, kenaikan harga sarana produksi pertanian (Saprodi) kali ini memang belum setinggi saat awal perang Rusia-Ukraina, namun sudah jauh melampaui harga normal sebelum konflik Iran-AS pecah.

Kenaikan harga bahan pangan ini perlu diantisipasi secara menyeluruh. Tidak hanya melalui intervensi jangka pendek, tetapi juga dengan memperkuat sektor produksi dalam negeri agar lebih tahan terhadap gangguan eksternal.

Dengan kondisi saat ini, masyarakat diimbau untuk lebih bijak dalam mengelola pengeluaran, sementara pemerintah diharapkan dapat menjaga stabilitas harga dan ketersediaan bahan pangan di seluruh wilayah Indonesia.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *