PravadaNews – Di tengah rupiah yang masih berada di kisaran Rp17.800 per dolar AS, Bank Indonesia (BI) kembali menahan BI-Rate di level 5,75% selama tiga bulan berturut-turut pada September 2026.
BI juga mempertahankan suku bunga Deposit Facility sebesar 4,75% dan Lending Facility 6,50%, sedangkan JISDOR bergerak dari Rp17.883 per dolar AS pada Selasa (22/9/2026) menjadi Rp17.803 pada Rabu (23/9).
Gubernur BI, Destry Damayanti, mengatakan posisi BI-Rate saat ini terbentuk setelah bank sentral menaikkan bunga secara kumulatif 100 basis poin dari 4,75% pada April menjadi 5,25% pada Mei lalu 5,50% pada 9 Juni dan 5,75% pada 18 Juni untuk meredam tekanan terhadap rupiah.
Setelah kenaikan tersebut, Destry menjelaskan BI mulai mengandalkan instrumen yang lebih terarah sehingga tekanan global tidak seluruhnya direspons melalui perubahan suku bunga kebijakan.
“Namun kemudian pertanyaannya, apakah semua itu harus direspons dengan suku bunga? Kami menggunakan satu kebijakan inovatif,” kata Destry dalam konferensi pers hasil RDG BI yang dipantau secara daring.
Salah satu instrumen itu berupa insentif biaya lindung nilai dengan potongan premi swap sebesar 15% untuk tenor tiga bulan 20% untuk enam bulan dan 25% untuk 12 bulan, sementara insentif DNDF mencapai 25% untuk tenor enam bulan dan 30% untuk 12 bulan serta diperluas hingga pinjaman luar negeri bank dan investasi langsung asing atau FDI.
Dengan tambahan instrumen ini, Destry menilai BI-Rate 5,75% masih memadai pada kondisi kini karena penjagaan rupiah tidak hanya bertumpu pada suku bunga.
“Saat ini kami masih menganggapnya cukup. Stabilitas kita tidak hanya dijaga secara pre-emptive melalui BI Rate, tetapi juga melalui penguatan kebijakan insentif biaya hedging,” jelas Gubernur BI tersebut.
Tekanan terhadap rupiah berlangsung ketika bank sentral Amerika Serikat mengambil arah berbeda, sebab Federal Open Market Committee (FOMC) pada Rabu (16/9) menaikkan Fed Funds Rate sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%–4,00% melalui keputusan bulat 12 anggota.
FOMC menyatakan aktivitas ekonomi AS masih tumbuh solid di tengah ketidakpastian geopolitik, tapi tekanan harga belum sepenuhnya mereda.
“Inflasi masih tinggi. Kebijakan hari ini akan mendukung kembalinya inflasi ke sasaran Komite sebesar 2% secara lebih tepat waktu,” demikian pernyataan FOMC yang diterjemahkan redaksi ke dalam bahasa Indonesia.
Tekanan inflasi itu terlihat dalam proyeksi terbaru The Fed yang menempatkan inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) 2026 sebesar 3,7%, naik dari perkiraan 3,6% pada Juni, sedangkan inflasi inti PCE diproyeksikan 3,4% dari sebelumnya 3,3%.
Selain inflasi yang lebih tinggi, median proyeksi anggota FOMC menempatkan Fed Funds Rate pada level 4,1% hingga akhir 2026, lebih tinggi dibandingkan proyeksi Juni sebesar 3,8%.
Suku bunga AS juga diproyeksikan tetap berada di 4,1% pada 2027 sebelum turun menjadi 3,9% pada 2028, sehingga periode bunga tinggi di Amerika Serikat berpotensi berlangsung lebih panjang dibandingkan perkiraan sebelumnya.















