PravadaNews – Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tersendat pada pembukaan perdagangan Jumat (11/9/2026).
Setelah sehari sebelumnya tertekan cukup dalam, IHSG belum mampu menemukan pijakan untuk menguat dan kembali dibuka di zona merah.
Kondisi ini mencerminkan tekanan pasar yang masih terasa, terutama setelah aksi jual investor asing mewarnai perdagangan sebelumnya.
Pada awal perdagangan hari ini, IHSG berada di level 6.552, melemah 36,21 poin atau sekitar 0,55 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di level 6.589.
Sehari sebelumnya, IHSG ditutup anjlok 1,33 persen dan diikuti aksi jual bersih investor asing senilai Rp747,51 miliar.
Sejumlah saham unggulan seperti BBCA, BBRI, ISAT, DSSA, dan INDY menjadi yang paling banyak dilepas investor asing, sehingga pergerakannya turut menjadi perhatian pelaku pasar hari ini.
Tim Analis Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG masih akan menguji level support 6.525.
Jika level tersebut ditembus, indeks berpeluang bergerak menuju support berikutnya di kisaran 6.400 hingga 6.460.
“IHSG hari ini akan menguji level 6.525. Jika tembus level tersebut, IHSG berpeluang menguji level support selanjutnya di 6.400-6.460,” kata Tim Analis Phintraco Sekuritas.
Dari pasar komoditas, harga minyak mentah Brent telah menembus level 108 dolar AS per barel.
Sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di level 102,48 dolar AS per barel.
Tim Phintraco juga mencermati perkembangan penjualan ritel domestik.
Data menunjukkan penjualan ritel Juli 2026 tumbuh 1,1 persen secara tahunan, setelah mengalami penurunan selama tiga bulan sebelumnya.
Berdasarkan data Bank Indonesia, kenaikan tersebut terutama didorong masyarakat yang masih memprioritaskan pembelian barang konsumsi pokok.
Penjualan eceran sektor makanan, minuman, dan tembakau meningkat menjadi 3,6 persen pada Juli dari 2,4 persen pada Juni 2026.
Namun, penjualan ritel pada Agustus 2026 tercatat turun 0,1 persen secara bulanan.
Perkembangan tersebut menjadi salah satu indikator yang dicermati pasar terhadap kondisi konsumsi domestik.
Di sisi fiskal, Tim Phintraco mencermati defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga Juli 2026 mencapai Rp235,6 triliun.
Angka tersebut setara dengan 0,91 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Defisit tersebut masih relatif kecil dibandingkan target defisit APBN 2026 sebesar Rp734,3 triliun atau 2,85 persen dari PDB.
Namun, kenaikan harga minyak dunia menjadi salah satu tantangan bagi pengelolaan anggaran negara.
“Jika harga minyak bertahan di level tinggi dalam waktu lama dan pemerintah tidak mengelola anggaran dengan efisien. Kondisi itu meningkatkan kekhawatiran potensi melebarnya defisit APBN,” ujar Tim Phintraco.
Dari eksternal, pasar juga mencermati kebijakan bank sentral Eropa atau European Central Bank (ECB).
ECB menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin sehingga suku bunga menjadi 2,65 persen pada Agustus 2026.
“ECB menyatakan konflik Timur Tengah terus memicu tekanan inflasi. Perkiraannya, inflasi masih akan di atas target 2 persen untuk jangka waktu cukup lama,” kata Tim Phintraco.















