PravadaNews – Demam yang datang seperti tamu biasa kerap menipu keluarga, terutama saat gejalanya menyerupai influenza pada awal sakit.
Pada momentum Hari Demam Berdarah Dengue ASEAN setiap 15 Juni, kewaspadaan terhadap demam berdarah dengue perlu dibaca lebih dini.
Diketahui, Demam Berdarah Dengue (DBD) dan influenza atau flu sama-sama dapat diawali demam, sakit kepala, nyeri otot, lemas, dan nafsu makan menurun.
Halodoc menjelaskan, kemiripan gejala itu membuat sebagian orang sulit membedakan keduanya tanpa melihat tanda penyerta lain.
“Pada dasarnya, demam memang menjadi tanda awal dari DBD. Tapi, sayangnya masih banyak orang yang sering terkecoh dengan demam flu biasa yang terjadi di musim hujan seperti saat ini,” tulis Halodoc dalam keterangan kesehatannya, Senin (15/6/2026).
Baca Juga: Ketahui Manfaat Teh Telang untuk Kesehatan
Pembeda pertama dapat dilihat dari keluhan pernapasan, karena flu lebih sering disertai batuk, pilek, bersin, hidung tersumbat, dan sakit tenggorokan. Pada DBD, keluhan biasanya bergerak ke nyeri kepala berat, nyeri belakang mata, serta pegal hebat pada otot.
Tanda berikutnya ialah pola demam yang perlu dipantau sejak hari pertama sakit, terutama bila suhu tubuh tinggi secara mendadak.
Demam DBD dapat berlangsung dua hingga tujuh hari dan terkadang turun sesaat sebelum memasuki fase lebih rawan.
Perubahan pada kulit juga menjadi petunjuk penting, terutama bila muncul bintik merah yang tidak memudar saat ditekan. DBD juga dapat membuat pembuluh darah lebih rapuh sehingga perdarahan ringan seperti mimisan atau gusi berdarah perlu diwaspadai.
Pemeriksaan medis menjadi langkah penentu ketika demam tidak membaik, terutama setelah memasuki hari ketiga atau keempat.
Halodoc menyarankan pemeriksaan darah untuk memantau trombosit dan hematokrit, karena gejala awal DBD, flu, dan tifus bisa tampak mirip.
Sebelumnya, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menempatkan deteksi dini dan diagnosis kasus sebagai pilar pertama dalam Rencana Aksi Nasional Pengendalian Dengue 2026-2029.
Dari titik ini, membedakan demam bukan hanya urusan rumah tangga, tetapi bagian dari upaya menekan risiko keterlambatan penanganan.
“Urbanisasi yang tinggi, perubahan iklim, dan peningkatan mobilitas masyarakat menuntut pendekatan yang lebih terintegrasi dan preventif,” kata Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes RI, Murti Utami.
Kewaspadaan perlu ditingkatkan saat demam mulai turun tetapi tubuh justru makin lemas, muntah terus-menerus, nyeri perut hebat, atau muncul perdarahan.
Kemenkes mencatat pencegahan DBD tetap dimulai dari lingkungan melalui Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan gerakan Menguras, Menutup, serta Mendaur ulang barang bekas (3M Plus).














