PravadaNews – Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Mari Elka Pangestu menilai ketidakpastian global yang terus meningkat telah menjadi tantangan serius bagi perekonomian dunia, termasuk Indonesia.
Di tengah dinamika geopolitik, perlambatan ekonomi global, hingga tekanan terhadap perdagangan internasional, pemerintah dituntut mampu mengambil langkah yang cepat, adaptif, dan tepat sasaran untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Menurut Mari Elka, respons kebijakan yang terukur dan antisipatif menjadi faktor penting agar Indonesia mampu memperkuat daya tahan ekonomi, menjaga kepercayaan pasar, serta memanfaatkan berbagai peluang di tengah perubahan lanskap ekonomi global yang semakin dinamis.
Adapun rakor ini dilakukan guna merespons dinamika ekonomi global yang kian tidak pasti, salah satunya dipicu oleh lonjakan harga minyak dunia yang mulai menekan inflasi domestik dan daya beli masyarakat.
“Yang penting bagaimana sebuah negara itu merespons terhadap keadaan global yang tidak pasti itu. Ada kesepakatan yang tercapai bahwa prioritas kita adalah menjaga kestabilan makroekonomi di jangka pendek,” ujar Mari Elka di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (29/6/2026).
Mari Elka memaparkan, dampak ketidakpastian global seperti kenaikan harga minyak mentah saat ini sudah mulai dirasakan langsung oleh masyarakat melalui jalur inflasi.
Menurutnya jika tidak diantisipasi, hal ini dikhawatirkan dapat menggerus daya beli masyarakat secara luas.
“Karena kita sudah melihat dampak dari kepastian-ketidakpastian global misalnya harga minyak meningkat dan dampaknya kepada inflasi yang sudah mempengaruhi inflasi dan daya beli di masyarakat,” ujar Mari Elka.
Guna membentengi perekonomian domestik, DEN bersama Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia (BI) sepakat untuk memperkuat koordinasi, khususnya dari sisi kebijakan fiskal (anggaran negara) dan moneter (suku bunga dan stabilitas nilai tukar).
“Sehingga ini menjadi prioritas untuk menjaga kestabilan makro. Dan apa langkah-langkah yang perlu dilakukan baik dari segi fiskal maupun dari segi moneter dan koordinasi antara fiskal dan moneter itulah yang kita bahas,” kata Mari Elka.
Selain masalah inflasi, salah satu poin krusial yang dibahas dalam rapat tersebut adalah kondisi nilai tukar Rupiah. Mari Elka mengakui bahwa saat ini mata uang Garuda tengah mengalami tekanan yang cukup signifikan.
“Keadaan ekonomi Indonesia sebenarnya secara fundamental cukup baik. Namun kita memang menghadapi pelemahan rupiah yang lebih daripada peers (negara-negara tetangga/setara) kita,” jelas Mari Elka.
Menyikapi hal ini, Mari Elka menekankan pentingnya menjaga confidence (kepercayaan) dan trust (keyakinan) pasar terhadap kebijakan ekonomi Indonesia. Mari Elka menyebut setiap lembaga teknis terkait harus sangat berhati-hati dan strategis dalam mengambil keputusan ke depan.
“Berarti kita juga harus mewaspadai bagaimana menjaga isu confidence dan trust, ya. Dan itu tidak tentu terlepas dari kaitannya dengan kebijakan-kebijakan yang akan diambil oleh masing-masing lembaga yang bertanggung jawab secara teknis untuk melakukan hal itu,” tuturnya.
Mari juga mengatakan, apa yang dipaparkan pemerintah dalam rakor bersama DPR ini merupakan kelanjutan dari paparan strategis yang sebelumnya telah disampaikan DEN kepada Presiden Prabowo Subianto beberapa minggu yang lalu.
Pertemuan lintas lembaga ini diharapkan mampu menghasilkan bauran kebijakan (policy mix) yang solid, sehingga pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap melaju positif di tengah badai global.















