PravadaNews – Komisi VI DPR RI mempertanyakan kesiapan infrastruktur Bandara Internasional Soekarno-Hatta dalam melayani pesawat berbadan lebar, salah satunya seperti Airbus A380.
Anggota Komisi VI DPR RI Asep Wahyu Wijaya mengatakan, masuknya Airbus A380 ke Bandara Soekarno-Hatta harus menjadi momentum bagi PT Angkasa Pura Indonesia atau InJourney Airports mengevaluasi kesiapan infrastruktur bandara secara menyeluruh.
“Fenomena masuknya Airbus A380 ke Cengkareng ini menarik. Kita harus melihat apakah fasilitas bandara kita benar-benar sudah siap meng-cover seluruh kebutuhan pelayanan pesawat dan penumpang dengan kapasitas sebesar itu,” ujar Asep dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VI DPR RI bersama PT Angkasa Pura Indonesia di Gedung DPR RI, Jakarta, Kamis (3/9/2026).
Menurut dia, kesiapan sebuah bandara menerima pesawat berkapasitas besar tidak cukup hanya dilihat dari kemampuan landasan pacu dan lepas landas saja. Melainkan, juga harus mencakup fasilitas pelayanan penumpang hingga berbagai infrastruktur penunjang yang dibutuhkan untuk menangani pesawat dengan kapasitas besar.
Asep menilai evaluasi diperlukan untuk memastikan Bandara Soekarno-Hatta benar-benar mampu mengakomodasi seluruh kebutuhan pelayanan pesawat dan penumpang ketika melayani Airbus A380.
Terlebih, pengoperasian pesawat berkapasitas besar menuntut kesiapan bandara tidak hanya dari sisi infrastruktur utama, tetapi juga kemampuan fasilitas pendukung dalam menangani pergerakan penumpang dalam jumlah besar.
Sebagai informasi, Airbus A380-800 milik maskapai Emirates untuk pertama kalinya mendarat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada Sabtu (8/8/2026). Pesawat dengan nomor penerbangan EK358 rute Dubai (DXB)-Jakarta (CGK) tersebut tiba sekitar pukul 22.25 WIB dengan membawa sekitar 600 penumpang.
Kemudian, pesawat tersebut kembali terbang dari Jakarta menuju Dubai dengan nomor penerbangan EK359 pada Minggu (9/8/2026) sekitar pukul 00.45 WIB.
Menjelang kedatangan A380, pengelola Bandara Soekarno-Hatta menyatakan telah menyiapkan infrastruktur sisi udara dan sisi darat untuk melayani pesawat berkategori ICAO Aerodrome Reference Code 4F atau Code F. Dua runway Soekarno-Hatta disebut telah memenuhi persyaratan untuk melayani pesawat tersebut.
Selain runway, operasional A380 didukung jaringan parallel taxiway, apron, fasilitas Terminal 3, hingga Ground Support Equipment (GSE) khusus. Pengelola bandara sebelumnya juga telah melakukan koordinasi dan simulasi bersama regulator, Emirates, AirNav Indonesia, ground handling, Imigrasi, Bea Cukai, Karantina, serta pemangku kepentingan lainnya.
Meski demikian, Asep meminta kesiapan tersebut tetap menjadi bahan evaluasi InJourney Airports. Menurutnya, kemampuan menerima pesawat berukuran besar harus diikuti kesiapan seluruh fasilitas.
“Ini harus menjadi bagian dari evaluasi Angkasa Pura ke depan,” ucap Asep.















