Pravadanews – Harga beras medium di Kabupaten Lebak, Banten, mulai mengalami penurunan sekitar Rp 400 per kilogram (kg) di tingkat pedagang. Penurunan tersebut terjadi karena ketersediaan pasokan di lokasi itu disebut masih terjaga.
Pemantauan di Pasar Induk Rangkasbitung pun dilakukan. Hasilnya, ketersediaan beras di sejumlah titik kawasan tersebut terpantau mencukupi.
Pasokan beras dari sejumlah daerah di Banten, termasuk Kabupaten Pandeglang, disebut telah memenuhi kebutuhan pasar.
Deputi Kerawanan Pangan dan Gizi Badan Pangan Nasional, Aulia Sofyan mengatakan, stok beras yang ditemukan di lapangan di Rangkasbitung masih mencukupi. Dengan kondisi tersebut, Aulia berharap, pasokan di wilayah tersebut dapat lancar sekaligus harga stabil hingga akhir tahun.
“Alhamdulillah, kita sudah mengunjungi beberapa titik, salah satunya Pasar Induk Rangkasbitung. Kita melihat stok beras masih mencukupi dan kita harapkan sampai akhir tahun stok ini masih cukup. Kami juga berharap harga tetap stabil,” kata Aulia dalam keterangannya, dikutip Sabtu (10/10/2026).
Adapun ketersediaan beras di Kabupaten Lebak dipasok dari daerah penghasil di sekitarnya. Seperti beras medium dan premium di Pasar Induk Rangkasbitung antara lain berasal dari Kabupaten Pandeglang.
Hal ini membuat distribusi antardaerah turut berperan dalam memenuhi kebutuhan konsumen.
Sementara itu, ada juga masyarakat yang memilih beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Sebanyak tujuh pedagang mitra Bulog di Kabupaten Lebak turut menjual beras SPHP dengan harga maksimal Rp 12.500 per kg.
Stok beras di gudang Perum Bulog juga menjadi salah satu penopang ketersediaan pangan di wilayah tersebut. Pasalnya stok beras di Gudang Bulog Kabupaten Lebak saat ini mencapai 15.750 ton, termasuk stok beras SPHP sebanyak 160 ton.
Wakil Pemimpin Wilayah Perum Bulog DKI Jakarta dan Banten, Herdian Denda Dinata mengatakan, ketersediaan stok tersebut merupakan upaya dalam menjaga kelancaran pasokan beras di Kabupaten Lebak dan sekitarnya.
Pada tingkat nasional, Proyeksi Neraca Pangan Nasional 2026 memperkirakan stok akhir beras mencapai sekitar 16 juta ton. Proyeksi tersebut memperhitungkan stok awal tahun sekitar 12,4 juta ton, produksi beras sekitar 34,7 juta ton, dan kebutuhan konsumsi sekitar 31,2 juta ton.
Sementara itu, stok beras Bulog secara nasional tercatat sekitar 4,5 juta ton. Ketersediaan stok tersebut merupakan cara pemerintah menjaga pasokan beras dan mendukung stabilisasi harga di berbagai wilayah.
Dengan pasokan yang masih mencukupi di pasar serta dukungan stok Bulog di tingkat daerah dan nasional, pemerintah berharap kebutuhan beras masyarakat tetap terpenuhi.















