PravadaNews – Harga kedelai mengalami peningkatan akibat dampak ketegangan yang terjadi di kawasan Timur Tengah. Mengingat stok kedelai dalam negeri sebagian besar berasal dari impor, Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan kondisi harga di tingkat perajin tahu dan tempe tetap terkendali dan berada di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP).
Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa menyampaikan berdasarkan hasil pemantauan, harga kedelai di tingkat importir untuk kualitas tertinggi saat ini berada pada kisaran Rp 10.100-10.200 per kilogram (kg). Harga tersebut dinilai masih dalam batas aman karena berada di bawah HAP yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp 12.000/kg.
“Kami telah melakukan langkah antisipasi melalui rapat koordinasi dengan para importir. Saat ini harga kedelai relatif baik. Di tingkat konsumen atau pengrajin, khususnya di wilayah Jawa dan Bali, harga tertinggi berada di kisaran Rp 11.000/kg,” ujar Ketut, Sabtu (18/4/2026).
Baca juga : Mafia Pangan Selendupkan 23 Ton Bawang
Dalam rangka memperkuat pengawasan, Bapanas mewajibkan para importir untuk melaporkan setiap rencana perubahan harga sebelum diberlakukan. Selain itu, pemerintah telah menugaskan Perum Bulog untuk melakukan pengadaan cadangan kedelai sebanyak 70.000 ton sebagai langkah mitigasi.
Terkait adanya laporan harga kedelai di wilayah Aceh yang masih menyentuh Rp 12.000/kg, Bapanas akan segera melakukan pendalaman terhadap rantai distribusi.
“Kami akan mengumpulkan distributor dan importir untuk wilayah Aceh guna memastikan distribusi berjalan efisien sehingga harga di tingkat pengrajin dapat lebih terkendali,” tegas Ketut.
Di tingkat lapangan, aktivitas pengrajin tahu dan tempe terpantau tetap berjalan normal. Salah satu pengrajin di Wonosobo, Jawa Tengah, Ngaliman, menyampaikan bahwa pasokan kedelai masih lancar tanpa hambatan.
“Pasokan tidak berubah, tetap lancar. Jumlah tenaga kerja juga tidak berubah. Namun, kami melakukan sedikit penyesuaian ukuran produk sebagai respons terhadap perubahan biaya produksi,” ujar Ngaliman.















