PravadaNews – Rupiah kembali menunjukkan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan hari ini.
Setelah sempat melemah tipis pada penutupan perdagangan Selasa, mata uang Garuda berhasil bangkit dengan menguat 0,21 persen atau 39 poin ke level Rp18.121 per dolar AS, berdasarkan data Bloomberg.
Penguatan ini sekaligus sejalan dengan proyeksi Analis Pasar Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong.
“Rupiah diperkirakan menguat terhadap dolar AS di tengah penurunan harga minyak mentah dunia. Pasar juga berharap perdamaian di Timur Tengah dan penurunan pada indeks dolar AS,” kata Lukman dalam analisisnya, Rabu (4/11/2026).
Pelaku pasar kini sedang menyiapkan antisipasi hasil pemilu paruh waktu di AS.
“Namun penguatan diperkirakan terbatas di tengah sentimen yang masih lemah di pasar ekuitas domestik,” ucap Lukman.
Di pasar saham masih terjadi aliran keluar modal asing. Pada Selasa kemarin, jual bersih (net sell) saham oleh investor asing sebesar Rp760 miliar.
Sementara itu, harga minyak dunia menurun dipengaruhi pelaksanaan pemilu sela di AS. Harapan akan perdamaian antara AS-Iran juga mendorong penurunan harga minyak.
Harga minyak Brent hari ini diperkirakan akan bergerak kisaran USD103,34 – USD 103,47 per barel. Harganya turun 0,25 perse-1 persen dibandingkan hari sebelumnya.
Sedangkan harga minyak WTI bergerak ke kisaran USD95,56 – USD95,95 per barel. Harganya turun sekitar 0,38 persen – 0,55 persen.
“Rupiah hari ini akan bergerak di kisaran Rp18.050-Rp18.200 per dolar AS,” kata Lukman.
Sedangkan indeks dolar AS diperkirakan akan bergerak di level 101,42-101,46, melemah sekitar 0,40 persen – 0,51 persen














