Bursa Efek Indonesia (BEI). (Foto: BEI)

Beranda / Ekonomi / IHSG Anjlok 3,49%, Sentimen Global Menekan

IHSG Anjlok 3,49%, Sentimen Global Menekan

PravadaNews – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali berakhir di zona merah pada perdagangan Kamis, 29 Oktober 2026.

Sempat dibuka menguat, IHSG justru berbalik melemah 3,49 persen ke level 5.098,05 pada penutupan sesi II.

Pelemahan ini terjadi di tengah penguatan bursa regional Asia, dengan 624 saham tercatat turun, mencerminkan tekanan jual yang mendominasi perdagangan di pasar sahamSaham domestik.

Bank sentral Amerika Serikat (AS) itu menetapkan tingkat suku bunga pada kisaran 3,75–4 persen sesuai ekspektasi pasar.

Namun, perbedaan pandangan di antara pejabat The Fed memunculkan kekhawatiran mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga pada Desember 2026.

Pilarmas menilai pelemahan pasar dipengaruhi sentimen risk-off atau kecenderungan investor menghindari risiko.

Kondisi tersebut disertai aksi jual bersih (net sell) saham oleh investor asing yang masih berlanjut di pasar modal domestik.

Selain ketidakpastian kebijakan moneter AS, perkembangan geopolitik juga menjadi perhatian pelaku pasar.

Upaya diplomatik untuk meredam konflik Timur Tengah masih berlangsung, tetapi tingginya harga minyak memicu kekhawatiran terhadap tekanan inflasi.

Harga minyak yang bertahan di atas USD100 per barel berpotensi menambah tekanan terhadap kondisi fiskal.

Situasi tersebut juga dapat memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi dan membebani pasar keuangan.

Di dalam negeri, risiko politik turut memengaruhi sentimen investor menyusul aksi unjuk rasa mahasiswa di sejumlah kota besar.

Tekanan tersebut berlangsung bersamaan dengan arus keluar dana asing dan pelemahan nilai tukar rupiah.

Pilarmas mencatat rupiah berada di atas Rp18.000 per dolar AS ketika arus keluar investor asing masih berlanjut.

Kombinasi faktor tersebut memperbesar tekanan terhadap pasar saham domestik di tengah sentimen global yang beragam.

Pergerakan IHSG pada Kamis 29 Oktober 2026 mencerminkan kuatnya pengaruh sentimen domestik terhadap keputusan investor.

Tekanan tersebut muncul di tengah aksi jual bersih investor asing dan pelemahan nilai tukar rupiah.

Di tengah ketidakpastian, pelaku pasar juga mencermati perkembangan inflasi AS melalui indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE).

Indikator tersebut menjadi salah satu acuan utama The Fed untuk menentukan arah kebijakan moneter berikutnya

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *