PravadaNews– Peringatan Hari Stroke Sedunia yang jatuh pada 29 Oktober menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap ancaman stroke yang tidak hanya mengintai kelompok lanjut usia, tetapi juga usia muda.
Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi stroke di Indonesia mencapai 8,3 kasus per 1.000 penduduk.
Angka ini menegaskan pentingnya upaya pencegahan, pengenalan gejala sejak dini, serta penanganan cepat untuk mengurangi risiko kerusakan otak akibat terganggunya aliran darah.
Pada usia muda, stroke bisa berhubungan dengan faktor risiko kesehatan atau kondisi medis tertentu.
Hipertensi, kolesterol tinggi, diabetes, obesitas, serta penyakit jantung termasuk faktor yang bisa meningkatkan risiko terkena stroke.
Gaya hidup turut memengaruhi risiko stroke, seperti kebiasaan merokok, kurang beraktivitas fisik, juga pola makan tidak sehat.
Konsumsi makanan tinggi garam serta kurangnya pemeriksaan kesehatan menjadi terlambat diketahui dan dapat berakibat fatal.
Selain karena gaya hidup, sebagian kasus stroke pada usia muda disebabkan oleh kelainan pembuluh darah atau kondisi jantung tertentu.
Riwayat keluarga serta faktor genetik juga berperan sehingga gejala yang dialami setiap orang harus dinilai secara individual.
Gejala stroke biasanya muncul mendadak dan dapat mempengaruhi gerakan, penglihatan, kemampuan berbicara, atau keseimbangan tubuh.
Tanda yang harus diwaspadai, yaitu wajah menurun sebelah, satu sisi tubuh melemah, serta bicara mendadak pelo.
Kementerian Kesehatan mengenalkan pengingat “SeGeRa Ke RS” untuk membantu publik mengenali gejala stroke dan segera mencari bantuan medis.
Tanda lainnya meliputi gangguan penglihatan mendadak, kebas pada separuh tubuh, hingga sakit kepala hebat yang muncul tiba-tiba.
Saat gejala stroke muncul, keluarga atau orang di sekitar penderita perlu segera mencari bantuan tenaga medis.
Jangan menunggu gejala menghilang sebab keterlambatan penanganan bisa meningkatkan risiko kecacatan, kerusakan otak, bahkan hingga kematian.
Penanganan stroke perlu dilakukan di fasilitas kesehatan agar tenaga medis bis menentukan diagnosis dan terapi sesuai dengan kebutuhan.
Pada stroke iskemik tertentu, terapi pelarut bekuan darah bisa diberikan sekitar 4,5 jam sejak gejala muncul.
Pencegahan stroke bisa dimulai dengan mengendalikan gula darah, tekanan darah, serta kadar kolesterol melalui pemeriksaan kesehatan berkala.
Masyarakat juga disarankan untuk berhenti merokok, berolahraga rutin, menjaga pola makan seimbang, dan mempertahankan berat badan yang sehat.
Kesadaran terhadap stroke sejak usia muda dinilai penting untuk mengurangi risiko komplikasi dan menjaga kualitas hidup.
Melalui peringatan ini, masyarakat diharapkan untuk semakin memahami faktor risiko, gejala, serta segera bertindak saat serangan terjadi.














