PravadaNews – Gejolak pasar saham mewarnai perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa (3/11/2026).
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat menyentuh level 5.143,58 justru harus mengakhiri perdagangan di zona merah setelah terkoreksi tajam 3,78 persen ke posisi 4.904,29.
Tekanan jual yang meluas turut membebani pergerakan pasar, tercermin dari dominasi 624 saham yang melemah, berbanding hanya 57 saham menguat dan 37 saham stagnan.
Sementara, aktivitas perdagangan tercatat dengan nilai transaksi mencapai 11,115 triliun.
Untuk volume saham yang diperdagangkan mencapai 24,479 miliar lembar dengan frekuensi lebih dari 1,381,525 kali transaksi.
Pelemahan Wall Street turut menekan pergerakan IHSG dan bursa regional Asia di tengah sentimen negatif pasar global.
Tim Analis Pilarmas Investindo Sekuritas menilai saham teknologi dan kecerdasan buatan (AI) masih tertekan akibat besarnya investasi serta ketidakpastian hasil pengembaliannya.
Pelaku pasar global juga cenderung berhati-hati menjelang pemilihan paruh waktu Amerika Serikat.
Sementara itu, penurunan harga minyak di tengah perkembangan diplomasi AS dan Iran belum cukup memperbaiki sentimen pasar secara keseluruhan.
Harga minyak mentah dan Brent masing-masing diperdagangkan sekitar 96 dolar AS dan 104 dolar AS per barel pada Selasa.
Harga tersebut turun sekitar tujuh persen pada sesi sebelumnya setelah muncul indikasi kemajuan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran.
Perkembangan tersebut meredakan kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan minyak lebih lanjut di pasar global.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyebut pemerintahannya memperoleh kewenangan lebih besar dari pemimpin tertinggi untuk melanjutkan negosiasi perdamaian.
Dari domestik, IHSG turut dibayangi inflasi pangan Oktober 2026 yang meningkat dari 5,03 persen menjadi 5,81 persen.
Tim Analis Pilarmas Investindo Sekuritas menyebut kenaikan tersebut mencerminkan gangguan pasokan pangan akibat anomali iklim El Nino yang belum sepenuhnya teratasi.
Di sisi lain, inflasi inti Oktober 2026 tercatat 2,56 persen secara tahunan, lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 2,84 persen.
Penurunan tersebut dinilai mengindikasikan melemahnya permintaan masyarakat, terutama kelompok menengah ke bawah yang mengurangi belanja non-esensial akibat meningkatnya kebutuhan pokok.














