PravadaNews – Tekanan jual kembali mewarnai perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia pada Kamis (8/10/2026).
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) harus menutup perdagangan di zona merah dengan turun 115,44 poin atau 1,88 persen ke level 6.031,28, setelah dibuka pada posisi 6.154,97.
Pelemahan IHSG tercermin dari dominasi saham yang bergerak turun. Sebanyak 497 saham terkoreksi, sementara hanya 171 saham menguat dan 119 saham lainnya stagnan.
Di tengah tekanan pasar tersebut, nilai transaksi tercatat mencapai Rp12,5 triliun dengan volume perdagangan 60,3 miliar saham dan frekuensi lebih dari 1,94 juta kali transaksi.
Tim Analis Pilarmas Investindo Sekuritas menilai pelemahan IHSG tidak terlepas dari pergerakan bursa regional Asia.
Pelaku pasar juga tengah mencermati risalah The Fed untuk mencari petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat pada 2026.
“Sebagian besar pembuat kebijakan The Fed menilai kenaikan suku bunga kemungkinan akan tepat pada akhir tahun. Namun, keputusan selanjutnya akan bergantung pada data yang masuk, prospek ekonomi, dan keseimbangan risiko,” sebut Tim Analis Pilarmas Investindo Sekuritas.
Tim Pilarmas menilai kondisi tersebut menunjukkan era suku bunga tinggi belum sepenuhnya berakhir sepanjang tahun berjalan.
Menurut tim, sikap kehati-hatian bank sentral juga dipengaruhi risiko konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Hal itu mendorong kenaikan harga minyak sekaligus meningkatkan imbal hasil obligasi.
Kondisi tersebut juga meningkatkan risiko inflasi dan menambah volatilitas pasar keuangan global.
Sementara itu, harga minyak dunia meningkat akibat kekhawatiran eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Tim Pilarmas mengatakan risiko tersebut juga berkaitan dengan potensi gangguan pengiriman minyak melalui Selat Hormuz.
Menururt Tim Pilarmas, ini bertentangan dengan harapan umum bahwa Presiden AS, Donald Trump akan menahan diri dari meningkatkan ketegangan dengan Teheran.
Risiko terhadap pengiriman melalui Selat Hormuz juga tetap tinggi, meskipun aliran minyak dari Timur Tengah diperkirakan telah pulih.
Perkembangan harga minyak tersebut menjadi perhatian karena berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global.
Kondisi tersebut juga dapat memengaruhi sentimen investor terhadap arah kebijakan bank sentral berikutnya.















