PravadaNews – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Kamis (8/10/2026).
Hingga jeda siang, IHSG tercatat melemah 0,80 persen atau 49,32 poin ke level 6.097,4, setelah sempat bergerak menguat dan menyentuh posisi tertinggi 6.197,9 pada awal perdagangan.
Tekanan terhadap indeks turut terlihat dari aksi jual investor asing yang masih berlanjut di Bursa Efek Indonesia.
Hingga sesi pertama berakhir, investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp829 miliar, dengan saham BBCA, GOTO, BRIS, TPIA, dan ANTM menjadi sejumlah saham yang paling banyak dilepas.
“IHSG berpotensi sideways (stagnan) hari ini. Pergerakannya di rentang 6.100-6.120 untuk level support, dan di rentang 6.200-6.250 untuk level resistansi,” kata Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman.
Selain IHSG, indeks harga saham di kawasan Asia dan di Wall Street, Amerika Serikat juga melemah pada Rabu kemarin.
Ketegangan yang kembali meningkat di Timur Tengah, membuat harga minyak kembali melonjak.
“Imbal hasil obligasi AS tenor panjang juga mengalami kenaikan, sehingga menekan pasar saham di AS,” ucap Fanny.
Imbal hasil tenor 30 tahun naik menjadi 5,68 persen, menyentuh level tertinggi.
Kenaikan imbal hasil memicu kekhawatiran investor terhadap inflasi dan meningkatnya beban utang AS.
Sementara itu, harga minyak Brent kembali bertahan di atas USD100 per barel.
“Kenaikan harga minyak akibat kekhawatiran pasokan terkait perang Iran. Harga yang naik memperbesar risiko inflasi dan mendorong kekhawatiran the Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama,” ujar Fanny.
Bursa saham Asia juga melemah pada perdagangan Rabu kemarin, tertekan kenaikan harga minyak mentah.
Pelemahan bursa saham di Asia, dipimpin bursa Singapura dan Korea Selatan.















