PravadaNews – Di tengah masih besarnya tantangan penanggulangan tuberkulosis (TB) di Indonesia, upaya memperluas deteksi dini dan pengobatan mulai menunjukkan perkembangan positif.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut, estimasi insiden TB di Indonesia menunjukkan tren penurunan dalam periode 2024–2026.
Perkembangan ini tidak terlepas dari upaya meningkatkan skrining untuk menemukan lebih banyak kasus serta memperluas jangkauan pengobatan bagi pasien.
Langkah tersebut menjadi bagian penting dalam memutus rantai penularan penyakit yang masih menjadi salah satu tantangan kesehatan masyarakat di Tanah Air.
Di balik tren penurunan tersebut, penguatan deteksi dini dan kepastian pasien mendapatkan pengobatan hingga tuntas tetap menjadi kunci untuk menekan penyebaran TB secara berkelanjutan.
“Yang menarik dari PHTC ketiga ini adalah, untuk pertama kalinya Indonesia melihat penurunan dari jumlah insiden TB. Dan penyebabnya kenapa? Karena kita agresif meningkatkan penemuan jumlah kasus,” kata Budi di Jakarta, Jumat (23/10/2026).
Budi menjelaskan, penemuan kasus TB meningkat dari 440 ribu kasus pada 2022 menjadi 700 ribu, kemudian 800 ribu, hingga mencapai 856 ribu kasus.
Menurut Budi, peningkatan penemuan kasus memungkinkan pasien segera mendapatkan pengobatan sehingga risiko penularan dapat ditekan.
“Pasien TB yang berhasil ditemukan segera mendapatkan pengobatan sehingga risiko penularan dapat ditekan. Peningkatan skrining membantu mempercepat penanganan pasien sekaligus mencegah penyebaran bakteri TB di masyarakat,” ujar Budi.
Budi mengatakan, pada 2026 Indonesia diperkirakan memiliki 1.080.000 kasus TB.
Hingga saat ini, sebanyak 666 ribu kasus telah ditemukan, dengan 599 ribu pasien menjalani pengobatan atau sekitar 90 persen dari kasus yang ditemukan.
“Kami menargetkan 90 persen kasus TB ditemukan, 95 persen pasien teridentifikasi diobati, dan 90 persen pasien menjalani pengobatan sembuh. Pencapaian target tersebut membutuhkan skrining luas serta kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan hingga tuntas,” ucap Budi.
Budi mengingatkan, keberhasilan pengobatan TB sangat bergantung pada kedisiplinan pasien dalam mengonsumsi obat sesuai ketentuan.
Pengobatan yang tidak tuntas berisiko menyebabkan penyakit kembali muncul dan memicu resistansi obat.
“Karena TB itu lama, minum obat itu empat bulanan dan setiap hari mesti minum obat. Biasanya orang malas, begitu malas, dia kena lagi atau jadi resisten,” kata Budi.
Untuk memperluas deteksi dini, Kemenkes berencana mendistribusikan mesin sinar-X atau X-ray ke 10 ribu puskesmas dalam tiga hingga empat tahun ke depan.
Pemerintah juga memperkuat pemeriksaan biologis untuk memastikan keberadaan bakteri TB pada pasien yang terindikasi terinfeksi.
“Kami melengkapi pemeriksaan TB dengan tes biologis untuk memastikan keberadaan bakteri melalui sampel dahak menggunakan mesin. Pemeriksaan tersebut membantu memastikan diagnosis TB secara lebih akurat sehingga pasien dapat segera memperoleh pengobatan yang tepat,” ucap Budi.














