PravadaNews – Iran menempatkan isu genosida Israel sebagai ujian stabilitas Selat Hormuz di tengah menguatnya retorika perang terhadap Lebanon. Teheran juga menegaskan jalur pelayaran komersial tetap berjalan, ketika kawasan tersebut membutuhkan kepastian keamanan transit dan diplomasi regional.
Kebijakan Iran bergerak pada dua pesan, yakni menekan narasi perang Israel dan menjaga arus dagang di Selat Hormuz. Sikap tersebut menunjukkan bahwa kemanusiaan dan keamanan maritim saling bertemu dalam dinamika Timur Tengah.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi mengarahkan pandangannya pada retorika pejabat Israel yang menyerukan penderitaan terhadap Lebanon dan menolak proses diplomatik kawasan.
“Ini bukan ocehan seorang gila genosida tanpa alasan. Ini adalah unggahan publik dari menteri keamanan nasional rezim Israel,” tulis Araghchi, melansir dari Kantor Berita IRNA, Sabtu (20/6/2026).
Kepala diplomasi Iran menilai bahasa perang semacam itu tidak berhenti sebagai pernyataan politik, tetapi dapat membentuk arah kebijakan keamanan. Dalam konteks tersebut, tudingan genosida menjadi kritik Iran terhadap penderitaan warga sipil.
“Kelompok fanatik genosida yang bermarkas di Tel Aviv merupakan ancaman bagi seluruh umat manusia. Kelompok ini mengancam semua manusia,” tulis Araghchi.
Di tengah tekanan itu, Teheran membawa stabilitas Hormuz sebagai pesan tandingan terhadap kekhawatiran eskalasi kawasan. Selat Hormuz menjadi penting karena jalur tersebut berkaitan langsung dengan pelayaran komersial dan rantai pasok energi global.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Iran menolak laporan penutupan Selat Hormuz dan menyebut pelayaran komersial tetap berlangsung seperti biasa. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Esmaeil Baqaei menegaskan pasukan Iran telah mengambil langkah untuk menjamin kelancaran lalu lintas kapal dagang.
“Klaim tersebut tidak berdasar, lalu lintas maritim tetap tidak terganggu,” kata Baqaei dalam klarifikasi resmi Kementerian Luar Negeri Iran.
Seperti diketahui, Iran menyoroti retorika perang pejabat Israel yang dinilai dapat memperluas sasaran konflik terhadap warga sipil Lebanon. Hal itu kemudian dikaitkan dalam stabilitas kawasan, karena eskalasi politik dapat berdampak pada keamanan pelayaran komersial di Selat Hormuz, dengan ketegasan kawasan yang tak terganggu.














