Illustrasi virus ebola. (Foto: Dok. Komdigi.go.id)

Beranda / Kesehatan / Ebola Bukan Cuma Demam Berdarah

Ebola Bukan Cuma Demam Berdarah

PravadaNews – Virus Ebola menuntut kewaspadaan sejak gejala awal muncul karena penyakitnya kerap menyerupai infeksi umum.

Demam, lemas, dan nyeri tubuh dapat muncul sebelum pasien mengalami gangguan organ atau tanda pendarahan.

Pemahaman penyakit Ebola tidak selalu hadir dengan gambaran pendarahan seperti yang sering dikenal publik. Infeksi ini dapat menyerang banyak sistem tubuh dan menimbulkan risiko kematian tinggi pada sejumlah wabah.

Kementerian Kesehatan melalui laman Ayo Sehat mencatat virus Ebola pertama kali ditemukan pada 1976 di Zaire. Wilayah tersebut kini bernama Republik Demokratik Kongo (RD Kongo), salah satu kawasan yang berulang menghadapi wabah Ebola.

Istilah demam berdarah Ebola tidak lagi cukup untuk menggambarkan seluruh spektrum penyakit itu.

“Manifestasi pendarahan sebenarnya hanya terjadi pada kurang dari separuh pasien yang terinfeksi, dan tidak ada korelasi langsung antara pendarahan dan tingkat keparahan penyakit,” dikutip dari Ayo Sehat, Sabtu (20/6/2026).

Penyakit Ebola dapat memicu gangguan saraf, fungsi hati, fungsi ginjal, kardiovaskular, pendengaran, hingga penglihatan. Karena itu, deteksi awal tidak boleh menunggu pendarahan, terutama pada orang dengan riwayat kontak atau perjalanan berisiko.

Angka fatalitas kasus atau case fatality rate (CFR) Ebola berbeda menurut wabah dan jenis virus penyebabnya. Pada sejumlah wabah, CFR dilaporkan bergerak 25–90 persen, dengan Zaire ebolavirus sebagai salah satu tipe paling mematikan.

Secara biologis, virus Ebola merupakan virus asam ribonukleat (RNA) untai negatif berbentuk filamen dan hanya mengode tujuh protein struktural. Meski sederhana, virus ini mampu memanipulasi pertahanan sel melalui protein VP35 yang menekan respons interferon.

Tekanan terhadap sistem imun dapat memicu peradangan berat, kebocoran pembuluh darah, hingga kegagalan banyak organ. Temuan terbaru juga menempatkan kulit sebagai target infeksi, sehingga kontak erat dan pengurusan jenazah harus dikendalikan ketat.

Dari sisi terapi, Inmazeb dan Ebanga telah disetujui sebagai antibodi monoklonal untuk menarget glikoprotein Ebola jenis Zaire. Namun, perlindungan terhadap Sudan virus, Bundibugyo virus, dan Marburg masih menjadi tantangan bagi riset, vaksin, dan kesiapsiagaan wabah.

Risiko tersebut membuat kewaspadaan ilmiah masuk ke ranah kebijakan setelah Ebola ditetapkan sebagai Public Health Emergency of International Concern (PHEIC). Kemenkes menerbitkan Surat Edaran Nomor SR.03.01/C/2783/2026 sebagai acuan bagi dinas kesehatan, fasilitas layanan, laboratorium, serta puskesmas.

Adapun World Health Organization (WHO) melaporkan 676 kasus terkonfirmasi dan 136 kematian di RD Kongo per 10 Juni 2026. WHO juga mencatat penularan masih berlangsung dengan penyebaran geografis yang meningkat, sehingga surveilans, hingga kesiapan laboratorium menjadi kunci respons.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *