Pravadanews – Kabut tebal menjadi kendala tim SAR gabungan dalam melakukan pencarian rombongan jurnalis yang hilang kontak di perairan Selat Sunda, tepatnya di sekitar Gunung Anak Krakatau.
Kondisi yang berkabut itu menyebabkan jarak pandang tim SAR terganggu. Bahkan, penerbangan kedua atau sortie kedua helikopter yang dikerahkan dalam operasi pencarian tidak dapat dilaksanakan.
“Untuk kendala yang di lapangan saat ini, dari semua laporan rekan-rekan kita tim SAR gabungan, dengan kabut yang sangat tebal sehingga mengganggu visibility,” kata Al Amrad dalam keterangannya yang dikutip Senin (14/9/2026).
Adapun dalam proses pencariannya dilakukan melalui udara menggunakan Heli Rescue 3604. Helikopter tersebut lepas landas dari lapangan di Carita dan melakukan pencarian selama sekitar 41 menit.
Namun, kondisi cuaca berkabut membuat pencarian menggunakan helikopter tidak dapat dilanjutkan ke penerbangan kedua.
Selain itu, kabut juga membatasi penggunaan drone. Pasalnya, pihak KN SAR Tetuka sempat menerbangkan drone untuk melakukan pemantauan setelah menemukan jerigen minyak berwarna biru pada pukul 10.05 WIB.
“Alhamdulillah nya sempat menerbangkan drone walau tidak lama karena kondisi kabut,” kata Al Amrad.
Meski cuaca sempat berkabut, tim SAR gabungan tetap melakukan pencarian dengan mengerahkan 14 alat utama (alut), termasuk unsur udara. Wilayah pencarian pun dibagi menjadi tujuh sektor.
Sejumlah unsur yang dilibatkan antara lain KRI Krambit, KRI Lauser, KRI Lepu, KN SAR Antasena, KN SAR Basudewa, KN SAR Tetuka, sejumlah RIB, serta Heli Rescue 3604.
Dalam pencarian tersebut, KN SAR Tetuka menemukan empat benda, yakni jerigen minyak berwarna biru, helm merah, life jacket oranye, dan life jacket merah. Belum ada keterangan yang memastikan benda-benda tersebut berkaitan dengan speedboat yang hilang kontak.















