PravadaNews – Di balik potensi besar usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk menggerakkan perekonomian nasional, akses terhadap modal masih menjadi tembok penghalang bagi banyak pelaku usaha yang ingin naik kelas.
Kesenjangan pembiayaan yang mencapai 50,8 miliar dolar AS per tahun membuat kebutuhan akan sumber pendanaan yang tepat semakin mendesak, terutama bagi usaha yang membutuhkan suntikan modal untuk memperluas bisnis dan menciptakan dampak lebih luas.
Persoalan tersebut menjadi sorotan dalam Indonesia Impact Investment Summit 2026 di Jakarta pada 21 Oktober 2026.
Forum yang mempertemukan 200 investor, pemimpin bisnis, dan perwakilan pemerintah itu mendorong perluasan akses pembiayaan, dengan menekankan pentingnya peran penyedia modal lokal dalam menjembatani kebutuhan UMKM dan investor.
”Kami ingin mempertemukan investor dan pemilik modal untuk memperluas pembiayaan bagi usaha berdampak. Kolaborasi ini diharapkan mendorong pertumbuhan usaha, membuka lapangan kerja, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Direktur Eksekutif Indonesia Impact Alliance, Atika Benedikta dikutip Minggu (25/10/2026).
Atika menjelaskan, banyak usaha yang berada pada kategori missing middle belum memperoleh akses pembiayaan memadai.
Kondisi ini terjadi karena kebutuhan modal mereka tidak selalu sesuai dengan batas minimum investasi yang ditetapkan sebagian investor.
Atika juga menyampaikan pemetaan IIA pada 2024 menunjukkan, 55 persen usaha membutuhkan pembiayaan 100 ribu hingga dua juta dolar AS.
Namun, sebagian besar dana investasi berdampak menetapkan nilai investasi minimum satu juta dolar AS, sehingga akses pendanaan terbatas.
“Usaha yang dipimpin perempuan mencakup 64,5 persen UMKM Indonesia, tetapi akses pembiayaan masih perlu diperluas. Investasi berperspektif gender dapat membuka peluang pendanaan sekaligus mendorong kesetaraan dan pertumbuhan usaha perempuan,” ujar Atika.
Sementara, Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Bappenas, Leonardo A. Teguh Sambodo menilai, investasi berdampak strategis mendukung pembangunan berkelanjutan dan Indonesia Emas 2045.
Menurut Leonardo, investasi tersebut perlu diperkuat agar manfaat pembangunan dapat dirasakan masyarakat yang paling membutuhkan.
“Harapan kami terhadap Indonesia Impact Investment Summit 2026 tidak hanya memobilisasi modal swasta. Forum ini diharapkan mempercepat terwujudnya manfaat pembangunan bagi masyarakat yang paling membutuhkan,” kata Leonardo.
Pemerintah memperluas akses pendanaan melalui pembiayaan campuran, kolaborasi lintas sektor, serta mekanisme pengurangan risiko investasi.
Langkah ini diharapkan membuka peluang investasi sektor energi terbarukan, transportasi ramah lingkungan, kesehatan, pendidikan, dan usaha mikro.
Disisi lain, COO Instellar Impact, Adisti Chandra, menilai kelulusan program akselerator belum menjamin usaha memenuhi persyaratan investor.
Kinerja bisnis, tata kelola, skala usaha, serta kesiapan investasi menjadi faktor penting dalam menentukan kelayakan pendanaan.
“Kelulusan program akselerator belum menjamin kesiapan usaha memperoleh investasi dari investor. Karena itu, pendampingan perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan persyaratan investasi,” ujar Adisti.
Menurut Adisti, koordinasi penyelenggara pendampingan dan investor perlu diperkuat untuk mempersiapkan usaha memenuhi persyaratan investasi.
Langkah ini membantu pelaku usaha memperoleh pembiayaan sesuai kebutuhan bisnis dan mendukung pertumbuhan berkelanjutan.














