PravadaNews – Kondisi energi Indonesia saat ini disebut masih dalam kategori aman, namun belum sepenuhnya kebal terhadap tekanan global. Pemerintah dan kalangan masyarakat sipil sama-sama mengakui adanya stabilitas, tetapi juga mengingatkan potensi kerentanan yang tidak bisa diabaikan.
Berdasarkan keterangan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, pasokan energi nasional hingga kini masih terkendali dan belum memasuki fase darurat, meski sejumlah negara di kawasan mulai terdampak krisis energi global.
Pemerintah menyebut stok bahan bakar minyak (BBM), termasuk solar, masih mencukupi, dengan sebagian besar kebutuhan dipenuhi dari produksi dalam negeri. Untuk gas bumi, pasokan domestik bahkan telah sepenuhnya bergantung pada produksi nasional.
Namun, pandangan berbeda disampaikan Deputi Direktur di Publish What You Pay Indonesia, Meliana Lumbantoruan. Dalam wawancara eksklusif Meliana menilai, kondisi tersebut belum bisa dianggap sepenuhnya aman.
“Ketergantungan Indonesia terhadap impor masih cukup tinggi, terutama untuk bensin yang mencapai sekitar 50 persen dan LPG sekitar 70 persen. Ini menunjukkan sistem energi kita masih rentan terhadap guncangan eksternal,” ucap Meliana kepada PravadaNews, dikutip Jumat (1/5/2026).
Meliana juga menyoroti faktor geopolitik yang berpotensi mengganggu rantai pasok energi, khususnya ketergantungan pada jalur distribusi strategis seperti Selat Hormuz yang selama ini menjadi salah satu jalur utama pasokan minyak mentah dunia.
Di sisi lain, Presiden Prabowo Subianto menegaskan Indonesia masih berada dalam posisi relatif aman dibandingkan banyak negara lain yang mulai menghadapi krisis.
“Saudara-saudara perhatikan, seluruh dunia dalam keadaan krisis. Banyak negara sudah kesulitan, tapi kita masih aman. Kita swasembada pangan, pangan kita aman,” ujar Prabowo dalam pidatonya pada peringatan Hari Buruh di Monumen Nasional, Jumat (1/5).















