Ilustrasi profesi seorang guru. (Foto: PravadaNews)

Beranda / Politik / Lulusan Sarjana untuk Jadi Guru Terbuka Lebar

Lulusan Sarjana untuk Jadi Guru Terbuka Lebar

PravadaNews – Pernyataan anggota Komisi X DPR RI, Once Mekel terkait peluang lulusan sarjana non-kependidikan untuk menjadi guru membuka wacana baru dalam sistem pendidikan nasional.

Once menegaskan, siapa pun yang memiliki latar belakang pendidikan di luar jurusan keguruan tetap dapat berkontribusi sebagai tenaga pendidik, selama terlebih dahulu mengikuti dan lulus tahapan pembelajaran pedagogi yang memadai.

Gagasan ini dinilai sebagai langkah strategis untuk memperluas sumber daya pengajar sekaligus menjawab kebutuhan tenaga guru di berbagai daerah, tanpa mengabaikan standar kompetensi yang harus dimiliki dalam proses belajar-mengajar.

Selain itu, pendekatan ini juga diharapkan mampu menghadirkan keragaman keahlian di ruang kelas, sehingga kualitas pendidikan dapat meningkat melalui kombinasi pengetahuan akademik dan kemampuan pedagogis yang terstruktur.

Once mengatakan, sekarang sedang diusahakan supaya guru-guru yang latar belakang sarjana dari manapun bisa mengajar.

“Sarjana ekonomi boleh (mengajar), sarjana S1 katakanlah ya. Sarjana kimia, sarjana fisika, sarjana matematika boleh ngajar. Tapi harus melewati tahapan untuk belajar pedagogi,” ujar Politisi Fraksi PDI-Perjuangan itu dikutip dari laman dpr.go.id, Minggu (3/5/2026).

Baca juga: DPR Usul Guru Jadi Profesi Resmi

Once menjelaskan, kemampuan akademis di suatu bidang tidak otomatis membuat seseorang mampu mengajar dengan baik. Oleh karena itu, diperlukan pelatihan pedagogi untuk memastikan mereka memiliki kemampuan mengajar yang memadai.

“Belajar untuk menjadi guru, karena belum tentu orang yang pandai di satu bidang dia kemudian bisa mengajar, harus ada penyesuaian,” jelas Once.

Menurut Once, lulusan dari latar belakang pendidikan guru memang memiliki keunggulan, dikarenakan sudah mempelajari metode pengajaran, tetapi tetap perlu melalui tes untuk memastikan kualitas.

“Sebaliknya yang dari guru-guru yang latar belakang pendidikan guru mereka mungkin lebih cepat untuk menjadi guru. Meskipun tetap ada semacam tes atau sebagainya ya agar memang kita punya guru-guru yang lebih berkualitas, kualifikasi anak-anak juga mendapatkan pendidikan lebih baik,” kata Once.

Dalam kesempatan itu, Once juga menekankan pentingnya pemerataan distribusi guru ke seluruh Indonesia, khususnya daerah terisolasi, terluar, dan terdepan (3T) yang masih kekurangan tenaga pendidik.

“Guru-guru juga harus kita berikan insentif untuk mau mengajar di tempat-tempat yang masih kurang guru. Tempat-tempat khususnya daerah 3T, daerah terisolasi, terluar ya, terdepan Indonesia ini yang perlu diperhatikan juga,” ujar Once.

Once menegaskan, guru tidak seharusnya hanya terkonsentrasi di kota-kota besar atau ibu kota provinsi, tetapi harus menyebar ke seluruh wilayah Indonesia.

“Guru-guru jangan hanya berkonsentrasi di tempat-tempat tertentu, di kota-kota atau ibu kota, provinsi, ibu kota, kecamatan dan sebagainya. Harus juga menyebar, tapi harus diiringi yang saya bilang tadi, insentif yang cukup buat mereka,” tegas Once.

Once berharap dengan adanya insentif yang memadai, generasi muda guru akan termotivasi untuk mengabdi di daerah-daerah yang membutuhkan, sehingga pendidikan Indonesia bisa lebih merata.

“Ada rangsangan lah untuk, apalagi generasi baru guru, supaya Indonesia lebih baik. Guru penting,” katanya.

Politisi yang juga penyanyi ini mengaku memiliki kedekatan emosional dengan profesi guru, mengingat keluarganya banyak yang berprofesi sebagai pendidik.

“Ibu saya aja guru kok. Ibu saya guru, nenek saya guru, kakek-kakek saya guru, ada yang kepala sekolah dan sebagainya. Mungkin kalau saya nggak jadi penyanyi, saya jadi guru juga,” ujar Once.

Once menegaskan, upaya peningkatan kualifikasi guru dan pemerataan distribusi guru merupakan bagian dari agenda besar untuk mewujudkan pendidikan Indonesia yang bermutu dan merata di seluruh wilayah.

“Kita punya guru-guru yang lebih berkualitas, kualifikasi anak-anak juga mendapatkan pendidikan lebih baik. Dan pendidikan Indonesia itu bermutu dan merata di seluruh Indonesia,” pungkas Once.

Sementara itu, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) telah mengambil kebijakan pro-guru dengan memastikan pencairan tunjangan profesi guru (TPG) kini dilakukan setiap bulan.

Langkah ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan guru, tetapi juga diharapkan dapat membuat mereka lebih fokus pada murid dan memberikan layanan pendidikan yang terbaik bagi generasi bangsa.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menjelaskan bahwa percepatan penyaluran TPG yang kini dilakukan setiap bulan ini dimaksudkan agar dapat memberikan kepastian kepada para guru atas haknya.

Sebelumnya, pencairan TPG seringkali mengalami keterlambatan atau dilakukan secara triwulanan, yang dapat memengaruhi perencanaan keuangan guru.

“Bagi kami, tunjangan guru bukan sekadar angka dalam anggaran, tetapi bentuk apresiasi atas dedikasi para guru yang setiap hari hadir mendidik generasi bangsa,” kata Mu’ti beberapa waktu lalu.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *