PravadaNews – Pengamat politik dari Citra Institute, Efriza, menilai kinerja Menteri Perdagangan Budi Santoso mengecewakan publik di tengah berulangnya kelangkaan minyak goreng rakyat MinyaKita di sejumlah daerah.
Padahal menurut Efriza, rekam jejak karier Budi Santoso sebagai birokrat murni seharusnya dapat membuat kebijakan-kebijakan strategis yang berdampak untuk mencegah potensi kelangkaan atau kenaikan harga MinyaKita.
Efriza berpendapat sosok Budi yang menghabiskan sebagian besar kariernya di lingkungan Kemendag semestinya menjadi modal kuat untuk mengatasi persoalan tata niaga minyak goreng.
Dengan pengalaman panjang tersebut, Budi dinilai memiliki pemahaman yang mendalam mengenai rantai distribusi, mekanisme perdagangan, hingga pengawasan pasar.
“Rekam karir Mendag Budi Santoso sebagai birokrat murni yang menghabiskan sebagian besar kariernya di Kemendag ternyata mengecewakan publik,” kata Efriza kepada PravadaNews, Sabtu (13/6/2026).
“Sebagai birokrat internal Kementerian Perdagangan, semestinya ia dapat diandalkan karena memiliki modal besar dalam memahami rantai distribusi, tata niaga, dan pengawasan pasar secara mendalam,” lanjut Efriza.
Efriza menekankan pengalaman itu seharusnya membuat Mendag mampu membaca poin dinamika persoalan minyak goreng berbasis data.
Efriza menegaskan, jabatan yang cukup mentereng itu harusnya mampu membuat analisis pola merumuskan langkah-langkah yang efektif menjaga stabilitas harga di pasaran.
Selain kemampuan teknokratis, Efriza menyoroti pentingnya kepekaan sosial dari seorang pejabat publik. Namun, harapan itu dianggap belum tercermin dalam penanganan persoalan MinyaKita.
Menurut Efriza, pengalaman panjang di sektor perdagangan tersebut semestinya mendorong munculnya empati terhadap kondisi masyarakat menghadapi tekanan ekonomi.
Efriza mencatat harga minyak goreng bersubsidi tersebut telah berulang kali melampaui HET, sementara keluhan masyarakat terus bermunculan seiring meningkatnya beban hidup sehari-hari
“Dia semestinya dapat memahami dinamika berbasis data atas persoalan minyak di negeri ini, minimal ia punya empati sosial terhadap masyarakat karena pengalamannya,” terang Efriza.
Efriza menegaskan, kondisi itu juga menjadi catatan serius bagi Kementerian Perdagangan. Sebab, kestabilan harga kebutuhan pokok merupakan salah satu indikator yang paling dirasakan langsung masyarakat.
Efriza menambahkan pemerintah perlu menunjukkan langkah yang lebih konkret dan terukur untuk memastikan distribusi minyak goreng berjalan lancar serta harga di tingkat konsumen tetap sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.
“Ketika harga MinyaKita berkali-kali melampaui HET dan keluhan masyarakat terus bermunculan, publik tentu mempertanyakan efektivitas pengawasan dan langkah yang dilakukan pemerintah,” pungkas Efriza.
Sebelumnya Mendag Budi Santoso menyiapkan sejumlah langkah untuk mengantisipasi kelangkaan pasokan Minyakita di pasar rakyat.
Pemerintah akan memperkuat distribusi melalui BUMN pangan, mengalihkan kebutuhan minyak goreng untuk program bantuan pangan.
Pemerintah juga turut mendorong produsen meningkatkan produksi minyak goreng merek pendamping atau second brand.
Langkah itu ditempuh di tengah laporan sulitnya masyarakat memperoleh Minyakita di sejumlah pasar tradisional.
“Apa yang kita lakukan? Justru kita ingin memperbanyak distribusi Minyakita itu ke pasar-pasar rakyat melalui BUMN Pangan, ada Bulog, ada ID Food,” kata Budi saat Jumat (12/6).
Menurut Budi, distribusi melalui Perum Bulog dan juga ID Food itu diharapkan dapat memperluas ketersediaan Minyakita di pasar rakyat.
Di saat yang sama, pemerintah akan menghentikan penggunaan Minyakita untuk program bantuan pangan agar pasokannya lebih terfokus bagi kebutuhan masyarakat.
“Jadi, kalau kemarin sebagian dipakai untuk bantuan pangan, maka bantuan pangan untuk minyak tidak pakai Minyakita (lagi), tapi pakai minyak merek lain ya, bisa. Minyak goreng merek lain, nanti tinggal kami koordinasikan dengan produsen,” ujarnya.
Selain itu, Kemendag meminta produsen memperbanyak produksi minyak goreng second brand, yakni minyak goreng kemasan bermerek dengan harga terjangkau yang selama ini menjadi pendamping Minyakita di pasar.
“Kemudian kita juga minta kepada produsen untuk memproduksi yang lebih banyak minyak second brand. Minyak second brand adalah minyak pendampingnya Minyakita. Dan sekarang sebenarnya sudah banyak di pasar rakyat ya,” tutur Budi.
Budi menambahkan minyak goreng second brand kini semakin mudah ditemukan di pasar rakyat dan dapat menjadi alternatif bagi masyarakat selain Minyakita.
“Jadi, (masyarakat) tidak hanya (beli) Minyakita, tetapi minyak goreng second brand juga sudah banyak. Jadi, sudah mudah untuk didapatkan,” pungkas Budi.















